April 20, 2019

REVIEW : THE CURSE OF LA LLORONA


“Your children are safe now, but have they heard her crying? Have they felt the sting of her tears? They will, and she will come for them.”

Apakah kalian pernah mendengar cerita seram mengenai makhluk halus berwujud perempuan yang gemar menggondol anak-anak selepas Maghrib? Apabila kalian tumbuh besar di Indonesia – terlebih lagi di tanah Jawa – dongeng mistis semacam ini telah menjadi santapan sehari-hari semasa bocah. Sejumlah orang tua kerap menakut-nakuti anak-anaknya dengan berseru, “nanti diculik wewe gombel lho!,” saat si bocah masih kekeuh untuk bermain-main di luar meski matahari telah kembali ke peraduannya. Sosok gaib yang dikenal sebagai wewe gombel tersebut memang menjadi momok yang sangat mengerikan bagi para krucil di tanah air dan beberapa sineas pun melihat potensi besar yang bisa dikembangkan dari folklore ini… termasuk Hollywood! Tatkala membaca tulisan ini, saya yakin banyak diantara kalian yang mengucek-ngucek mata saking terbelalaknya. Masa sih wewe gombel beneran sudah go international? Jika kalian tidak percaya, coba saja tengok The Curse of La Llorona (di sini menggunakan judul The Curse of the Weeping Woman) yang konon kabarnya dipaksakan oleh Warner Bros. untuk masuk ke dalam The Conjuring universe ini. Dalam film tersebut, kalian akan menjumpai sesosok memedi dalam rupa perempuan yang hobi menculik bocah. Bukankah itu sangat terdengar seperti wewe gombel? Betul kan, guys? Guys? Kalian masih di sini kan, guys? Kalau kalian masih di sini, mohon dimaafkan kejayusan ini dan perkenankan saya mengakui sesuatu: The Curse of La Llorona tentu saja bukan film horor soal wewe gombel, melainkan demit asal Meksiko bernama La llorona (diterjemahkan sebagai weeping woman karena sumber teror dimulai dari terdengarnya suara isak-isak tangis perempuan) yang kebetulan mempunyai mitos senada.

Dalam versi film yang naskahnya digubah oleh Mikki Daughtry dan Tobias Iaconis (duo penggubah narasi Five Feet Apart), La llorona dikisahkan mempunyai masa lalu yang pedih. Suami yang dicintainya pergi meninggalkannya demi perempuan lain. Ditengah kesedihannya, si demit pun memutuskan untuk membalas dendam dengan cara menenggelamkan anak-anaknya yang tidak tahu menahu soal duduk perkaranya. Usai memberi sekelumit sejarah mengenai si villain yang hidup di abad ke-16 ini, The Curse of La Llorona lantas membawa penonton ke Los Angeles pada tahun 1973 dimana kita dipertemukan dengan seorang pegawai di dinas sosial sekaligus janda bernama Anna Tate-Garcia (Linda Cardellini). Dalam kasus teranyar yang mesti dihadapinya, Anna berurusan dengan seorang ibu, Patricia (Patricia Velásquez), yang mengunci kedua anaknya di dalam lemari pakaian. Berhubung Patricia memberikan alasan tak logis mengenai perbuatannya tersebut, maka dinas perlindungan anak pun memutuskan untuk turun tangan dengan merenggut kedua anaknya dan menjebloskan Patricia ke dalam penjara. Untuk sesaat, Anna memang mengira Patricia telah kehilangan kendali. Tapi saat dua bocah yang telah berada di bawah perlindungan negara ini mendadak ditemukan tewas, Anna mulai berpikir ada sesuatu yang janggal apalagi saat dia mendengar nama La llorona disebut-sebut. Ditengah upayanya mencari tahu soal La llorona yang lantas menghantarkannya pada salah satu karakter dari Annabelle (2014), Father Perez (Tony Amendola), kedua anaknya yakni Samantha (Jaynee-Lynne Kinchen) dan Chris (Roman Christou), justru mulai mengalami serentetan peristiwa mengerikan. Ternyata oh ternyata, lambat disadari oleh Anna, La llorona ternyata sudah menjamah keluarga kecilnya!


Disandingkan dengan sesama penghuni The Conjuring universe seperti Annabelle serta The Nun (2018) yang kualitas penggarapannya sungguh bikin istighfar dan mengelus dada, The Curse of La Llorona memang agak lebih mendingan. Paling tidak, sutradara pendatang baru Michael Chaves menunjukkan bahwa dia masih memiliki kapabilitas yang mencukupi dalam hal meramu trik menakut-nakuti. Terbukti, film mempunyai satu dua momen seram di sepanjang durasi yang dieksekusi dengan kengerian di level “cukup” yang muncul dalam adegan-adegan dengan kata kunci La llorona ‘menjemput’ dua anak Patricia, serangan di mobil, dan payung ‘tembus pandang’. Dalam setengah jam pertama yang belum apa-apa sudah dibombardir dengan penampakan hantu perempuan bergaun pengantin ini, saya sedikit banyak bisa memafhumi alasan James Wan untuk memercayakan kursi penyutradaraan The Conjuring 3 kepada Chaves. Pengadeganannya tergolong efektif dalam membuat penonton terlonjak dari kursi bioskop, terlebih lagi ada tunjangan musik pembangkit bulu kuduk dari Joseph Bishara. Saya akui, diri ini pun sempat dibikin terkaget-kaget di tiga adegan tersebut yang seketika memunculkan tanya “apa lagi nih kejutan yang dipersiapkan oleh si pembuat film di menit-menit selanjutnya?”. Membawa pengharapan cukup besar karena dua faktor: 1) babak introduksinya meyakinkan, dan 2) materi pengisahan yang dikedepankan memungkinkan bagi film untuk tersaji emosional, pada akhirnya saya malah terbenam dalam lumbung kekecewaan begitu mendapati The Curse of La Llorona berakhir sebagai sajian horor generik yang terlampau bergantung pada penampakan tak perlu dengan iringan musik jedang-jedeng demi menimbulkan rasa ngeri.

Pada mulanya, trik menampakkan hantu dengan maskara luntur ini memang menjadi uji nyali tersendiri bagi penonton mudah dikageti seperti saya. Tapi saat Chaves mengulanginya lagi dan lagi dengan pendekatan tidak jauh berbeda – plus beberapa diantaranya sudah digeber di trailer – saya pun perlahan tapi pasti mulai kebal. Bahkan, rasa takut yang tadinya muncul seketika berubah menjadi rasa sebal saking genggesnya Mbak Rona ini. Terlalu banci tampil euy! Mengingat dia dijuluki sebagai weeping woman, saya berharap Chaves akan lebih mengeksploitasi suara tangisnya yang entah muncul darimana guna menciptakan nuansa creepy yang membuat bulu kuduk meremang. Sayangnya, bukan langkah tersebut yang diambil oleh sang sutradara dan dia lebih memilih mendaur ulang trik menakut-nakuti dari babak pertama untuk diterapkan pada babak-babak berikutnya. Jika ini belum cukup untuk memunculkan komentar “duh, sayang banget sih” maka tunggu sampai melihat perlakuannya terhadap narasi yang tersaji dengan sangat cethek. Menghadirkan sosok La llorona yang mempunyai masa lalu pilu sebagai villain dan memunculkan karakter jagoan dengan deskripsi single mother yang rela melakukan apa saja demi menyelamatkan anak-anaknya, saya sempat mengira The Curse of La Llorona bakal tampil emosional. Mengaduk-aduk emosi. Alih-alih menggali konflik dua perempuan lintas abad dan lintas dunia ini, Chaves beserta dua penulis skrip hanya memanfaatkannya sebagai hiasan supaya film tak terkesan kosong. Mereka tak pernah mengembangkan penceritaan untuk menciptakan koneksi antara penonton dengan para karakter.


Selama durasi mengalun, saya tak pernah benar-benar bisa memahami ‘cara kerja’ si hantu (mengapa dia menyasar keluarga tertentu? Apa hanya keluarga hispanik yang disasarnya? Mengapa dia bisa hijrah ke Los Angeles? Benarkah satu-satunya akses masuk ke rumah hanya melalui pintu?) dan tak pernah pula mampu berempati kepada Anna. Disamping karakterisasinya memang datar, saya pun tak bisa menerima fakta kalau Anna nekat memboyong kedua anaknya ke TKP pada tengah malam yang menjadi awal mula kemunculan teror bagi keluarga Garcia. Maka begitu keluarga ini dirundung oleh teror, saya sukar untuk menaruh kekhawatiran lantaran tak ada afeksi kepada mereka dan para karakter terlampau sering mengambil keputusan yang membuat saya ingin mengeluarkan meme “jangan ngatain, jangan ngatain.” Syukurlah Raymond Cruz sebagai Rafael yang membantu mengusir arwah La llorona sanggup tampil menghibur dengan celetukan-celetukan konyolnya sehingga babak pamungkas The Curse of La Llorona masih mengandung sisi fun meski saya sendiri mulai meragukan nasib The Conjuring 3.

Acceptable (2,5/5)

13 comments:

  1. Replies
    1. Iya nih, lagi butuh rekomendasi film horor dari cinetariz 10 tahun terakhir

      Delete
    2. Dari 10 tahun terakhir emang belum dibikin sih, tapi udah coba list berikut ini kah?

      1) http://cinetariz.blogspot.com/2012/10/20-film-horor-pilihan-cinetariz-untuk.html

      2) http://cinetariz.blogspot.com/2011/10/20-film-paling-mencekam-dekade-lalu.html

      3) http://cinetariz.blogspot.com/2011/11/25-film-paling-mencekam-dekade-lalu.html

      Delete
    3. Saya sdh baca dari dulu,emang serem2 rekomendasinya.


      Oh iya,kejadian di film keramat(2009)yg pernah mas alami kejadian yg mana ya,saya jadi penasaran.secara adegan pocong nya bikin parno.

      Delete
    4. Suara gamelan di tengah malam. Pernah mengalaminya juga sewaktu berkunjung ke Jogja dulu.

      Delete
  2. Annabel kedua gak buruk mas,,, malah bagus banget. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kan nggak pernah menyebut Annabelle Creation buruk di ulasan

      Delete
    2. Itu nyebut the Nun dan annabelle kualitasnya bikin istifar kirain annabelle kedua nya. 😁😁😁

      Delete
  3. Bang udah nonton high life nya robert pattinson? Mohon reviewnya bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah belum nih. Nanti coba kalau sudah nonton aku coba ulas

      Delete
  4. Mas Rizal ini suka Film horor, sepertinya ya ..

    Review THE CURSE OF LA LLORONA nya lengkap begitu. Pasti nontonnya tanpa kedip-kdip lama. hehe

    Kalo nonton sambil ketinggalan 1 scene saja. Bakal mutar ulang lah ini film.
    Boleh, tuh mas Rizal jadi reviewer handal di masa depan ..

    Kalau saya sendiri suka nulis tentang hal hal yang berbau pendidikan dan anak. Bawaan kali yaa memang suka yang seperti ini.

    Salam dan Semangat ..

    ReplyDelete
  5. Film The Curse of La Llorona ini mirip mirip film nenek gayung.

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch