August 23, 2019

REVIEW : WEATHERING WITH YOU (TENKI NO KO)


“Memangnya kenapa kalau kita tidak bisa lagi melihat matahari? Aku lebih menginginkanmu daripada langit biru.”

Perkara bikin baper berkepanjangan lewat tontonan animasi, tidak ada yang lebih jago dari Makoto Shinkai. Sejak mencuri perhatian saya untuk pertama kali lewat 5 Centimeters per Second (2007) yang bikin hati jutaan umat manusia terpotek-potek, Shinkai secara konsisten menghadirkan sajian berkualitas diatas rata-rata. Dia jago mengkreasi kisah cinta menghanyutkan hati berlatar cerita rakyat Jepang yang mistis, dia jago pula menghadirkan tampilan animasi menakjubkan mata dengan pendekatan fotorealistik. Hanya tinggal menunggu waktu baginya untuk memperoleh rekognisi lebih luas – sekaligus dipandang sebagai bapak animasi Jepang modern bersama Hayao Miyazaki – yang ternyata tiba dengan cepat. Melalui Your Name (2016) yang tercatat sebagai salah satu anime layar lebar dengan pendapatan tertinggi di seluruh dunia, kesempatan bagi Shinkai untuk mendapat perhatian dunia akhirnya tiba. Dalam film yang mempertemukan genre romansa dengan body swap comedy, disaster film, fiksi ilmiah, serta fantasi ini, beliau membuat para penonton terperangah, jatuh hati, sampai kemudian terserang baper berkepanjangan. Bagi sebagian penonton, Your Name adalah mahakarya dari Shinkai… dan saya pun mengamininya. Sulit untuk tak jatuh cinta kepadanya, sulit juga untuk membayangkan, apa gebrakan yang akan diberikan oleh sang sutradara selepas ini? Pertaruhan jelas tinggi, beban jelas besar. Kala Weathering with You diumumkan sebagai karya terbaru, tak pelak berbagai macam perasaan menyeruak menjadi satu. Antara gembira, bersemangat, penasaran, sampai khawatir dapat dirasakan menggelayuti diri.

Lantas, apa yang kemudian ditawarkan oleh Shinkai dalam Weathering with You? Well, film ini sendiri menerapkan winning formula yang telah terbukti ampuh tatkala diaplikasikan pada Your Name. Dua karakter protagonisnya adalah remaja usia belasan yang diikat oleh tali asmara, lalu ada fenomena alam, dan tak ketinggalan pula, elemen fantasi yang erat kaitannya dengan mitologi Jepang. Sekali ini, si pembuat film membawa penonton menuju ke Tokyo yang berbeda. Bukan secara tampilan, melainkan kondisi alam yang menaunginya. Tokyo yang senantiasa diguyur hujan tak berkesudahan sampai-sampai warganya merindukan sinar matahari dan langit biru. Alhasil, nuansa kota pun kelabu. Tapi keadaan yang kurang bersahabat ini tak menyurutkan langkah seorang remaja dari pulau terpencil bernama Hodaka (disuarakan oleh Kotara Daigo) untuk mencoba peruntungannya di Tokyo. Tanpa bekal kemampuan memadai, ditambah lagi Hodaka masih belum cukup umur, tentu bukan perkara mudah baginya untuk memperoleh pekerjaan di sini. Dia luntang-lantung selama beberapa hari sampai kemudian dia berjumpa dengan Keisuke Suga (Shun Oguri) yang bersedianya memberi pekerjaan sebagai penulis artikel. Tugas Hodaka adalah menemukan topik-topik unik berkaitan dengan klenik, salah satunya mencari seseorang berjulukan “gadis matahari” yang kekuatannya kurang lebih menyerupai pawang hujan di Indonesia. Dalam pencariannya, dia berkenalan dengan Hina (Nana Mori) yang memenuhi kualifikasi sebagai gadis matahari dan secara perlahan tapi pasti, percikan-percikan asmara mulai tumbuh diantara mereka.


Dihadapkan pada ekspektasi menjulang dari publik yang mendamba dongeng membuai selepas Your Name yang mengagumkan, nyatanya tak membuat Shinkai gentar. Memang, Weathering with You ada kalanya terasa kelewat ambisius dengan riuhnya cabangan cerita disana sini. Entah memperbincangkan soal keluarga Keisuke, penemuan senjata api oleh Hodaka, keterlibatan Hina dengan dunia klub malam, mendatangkan karakter dari Your Name sebagai cameo, sampai komentar terkait perubahan iklim yang diwujudkan dalam penggambaran cuaca ekstrim di Tokyo. Rentetan subplot ini tidak semuanya berjalan baik, khususnya terkait senjata api yang tidak memiliki banyak impak kecuali demi memberikan solusi mudah bagi persoalan sang protagonis. Tapi mengesampingkan masalah minor tersebut, Weathering with You menghadirkan sebuah kepuasan tersendiri kala bercerita yang membuat saya tidak keberatan untuk menyebut Makoto Shinkai sebagai penerus kebesaran Hayao Miyazaki dalam dunia animasi Jepang. Dongeng fantasi mengenai “pawang hujan” memunculkan mitologi yang menarik untuk disimak seperti bagaimana Hina memperoleh kekuatannya, mendayagunakan kekuatannya serta imbas kekuatan tersebut pada tubuhnya. Oleh si pembuat film, mitologi ini lantas dimanifestasikan ke dalam tiga macam rasa: takjub, gembira, sekaligus sedih. Rasa takjub bisa dicecap melalui world building bentukan Shinkai yang turut menjabat sebagai penulis skrip dimana penonton dapat menerima mengenai keadaan Tokyo maupun si gadis matahari, rasa gembira mencuat melalui interaksi antar karakter yang dipenuhi dengan situasi-situasi menggelitik saraf tawa, dan rasa sedih datang tatkala kita menyadari konsekuensi yang harus ditanggung oleh Hina.

Ya, menyaksikan Weathering with You tak ubahnya seperti menaiki wahana roller coaster yang mengacak-acak emosi sedemikian rupa di sepanjang perjalanannya. Apabila ada yang menyebut Shinkai sebagai “dewa baper”, maka julukan tersebut sangat bisa dipahami. Momen-momen romantis serta dramatis yang menghiasinya akan tetap membayangimu lama sampai setelah melangkahkan kaki ke luar bioskop. Baik ketika Hodaka menghabiskan waktu dengan Hina dimana keduanya merasa bersama-sama telah membuat perubahan besar pada dunia, atau saat dua karakter yang sangat mudah untuk kita cintai ini menyadari bahwa mereka membutuhkan pengorbanan apabila ingin menjalankan perubahan. Dari sini, berhamburan serentetan sensasi rasa lain seperti manis-manis menggemaskan, terbahak-bahak, serta menangis haru. Komentar Shinkai mengenai perubahan iklim juga memberikan cukup tonjokkan kepada diri ini dengan satu pertanyaan kontemplatif: apakah kamu bersedia untuk berkorban demi kebaikan bumi di masa mendatang, atau kamu memilih untuk masa bodoh demi kebahagiaan saat ini? Sebuah bahan perenungan yang jelas menggugah, semenggugah iringan lagu dari grup musik Radwimps yang ikut menebalkan rasa di beberapa adegan inti sehingga membuat sadboys sadgirls nelangsa dan goresan animasi berpendekatan fotorealistik yang sekali ini tampak lebih menakjubkan dibanding karya-karya Shinkai terdahulu. Tak terhitung berapa kali saya dibuat terperangah melihat polesan-polesan gambarnya yang begitu detil dalam merepresentasikan Tokyo, begitu indah dalam memvisualisasikan imajinasi si pembuat film mengenai keajaiban alam, dan begitu menawan dalam menggabungkan kesemuanya menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Pada akhirnya, jika ada dua kata yang bisa saya pinjam untuk mendeskripsikan Weathering with You, maka itu adalah manis nan magis.  

Outstanding (4/5)



5 comments:

  1. 5 cm per second emang parah bgd bikin baper.. ost nya selalu jadi playlist

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bangetttsss. Gila film itu beneran merobek robek emosi.

      Delete
  2. ada twist nya gak min film ini seperti film Your name yg punya twist bangsat bikit baper berkepanjangan hahahahaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada nggak yaaa? Kalau dikasih tahu ntar nggak jadi twist lagi dong. Hahaha.

      Delete
  3. Terima kasih untuk reviewnya. Film ini mantap seperti pendahulunya Kimi no Na wa sampai lebih laris dari yang saya baca di sini https://jurnalfilm.com/tenki-no-ko-mengungguli-kesuksesan-kimi-no-na-wa/

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch