August 31, 2016

REVIEW : DON'T BREATHE


Cenderung kesulitan menjumpai film horor yang terpatri kuat di ingatan tahun lalu, eh tidak dinyana-nyana pecinta genre ini dimanjakan sekali di 2016 dengan bertebarannya film seram berkesan mendalam. Hampir setiap bulan terwakili oleh satu judul film – kebanyakan diantaranya enggan menyambangi bioskop tanah air kecuali The Conjuring 2 beserta Lights Out – dan khusus bulan Agustus, menghadirkan Don’t Breathe arahan Fede Alvarez yang sebelumnya memberi kita ‘pesta darah’ kala mengkreasi ulang The Evil Dead. Bertolak belakang dengan debut film panjangnya, Don’t Breathe tidak meneror penonton lewat kekerasan berlevel tinggi yang memerahkan layar sekaligus bikin ngilu melainkan nuansa klaustrofobik sangat mengganggu bertabur ketegangan yang mengalami eskalasi di setiap menitnya. Ya, daya cekam hebat adalah kunci utama dari keberhasilan Don’t Breathe. Saking hebatnya, saya bahkan cukup berani untuk mencalonkan Don’t Breathe sebagai kandidat utama film horor terbaik sepanjang tahun 2016. 

August 25, 2016

REVIEW : DETECTIVE CONAN: THE DARKEST NIGHTMARE


Let me just say, The Darkest Nightmare adalah salah satu seri terbaik dari rangkaian film Detective Conan. Secara personal, saya akan menempatkannya di jajaran lima besar terbaik bersama Captured in Her Eyes, The Phantom of Baker Street, Crossroad in the Ancient Capital, serta The Eleventh Striker – kamu sangat mungkin akan mempunyai pendapat berbeda soal ini. Dalam jilid ke-20 ini, Kobun Shizuno menghamparkan plot rapat berelemen spionase pekat yang mengikat atensi penonton. Tidak hanya itu, keberadaan serentetan laga seru pun bisa kamu endus keberadaannya disini. Keduanya, telah mengemuka sedari menit pertama atau katakanlah prolog yang gegap gempita. Seorang perempuan misterius (disuarakan oleh Yuki Amami) diperlihatkan mendobrak masuk ke Biro Keamanan Publik guna mencuri NOC (Non-Official Cover), sebuah data penting berisi nama-nama agen rahasia dari seluruh dunia yang menyusup ke tubuh Organisasi Hitam. Tak berselang lama, yang kita saksikan berikutnya adalah kejar-kejaran mobil berkecepatan tinggi di jalanan Tokyo yang berujung pada terlemparnya mobil si perempuan ke sungai. 

August 21, 2016

REVIEW : TIGA DARA


“Nunung merenung, Nana merana, dan Neni bersedih hati.” 

Rupa-rupanya penduduk negeri ini tak pernah lelah meributkan soal cari jodoh. Pertanyaan “kapan kawin?” dilanjut tawaran membantu mencarikan pasangan yang kerap diajukan kepada para lajang di usia kepala dua keatas masih menjadi teror psikologis terhebat dalam era serba digital sekalipun enam tahun lalu sudah diungkit-ungkit oleh Bapak Perfilman Nasional, Usmar Ismail, melalui Tiga Dara (1956). Hanya Tuhan yang tahu sejak kapan persisnya pertanyaan mengusik tersebut tumbuh berkembang di bumi pertiwi, namun satu hal yang jelas, Tiga Dara yang merupakan rekaman sejarah bangsa Indonesia berbentuk produk kebudayaan menunjukkan bahwa problematika dikejar tenggat waktu menuju ke pelaminan tetap berasa relevan sampai setengah abad kemudian. Tidak peduli telah melewati tiga periode pembangunan politik maupun pergantian tampuk kepemimpinan sebanyak enam kali, persoalan mencari jodoh tetap dianggap mempunyai urgensi setara dengan mencari sesuap nasi bagi sebagian masyarakat Indonesia. 

August 20, 2016

[Special] KRITIK FILM BUKAN SEKADAR CACI MAKI


Persinggungan saya dengan website Qubicle yang singgah di halaman http://qubicle.id terjadi untuk pertama kalinya sekitar dua bulan silam menyusul disebarkannya pintasan ke sebuah artikel menarik terkait minat saya terhadap dunia perfilman melalui jejaring sosial Twitter. Meski ketertarikan pada Qubicle tidak serta merta terbentuk, tanpa disadari, sebetulnya hampir saban minggu saya melakukan kunjungan kesana entah untuk sekadar iseng-iseng belaka atau dilandasi keinginan mencari artikel informatif sebagai bahan menambah wawasan (duileeee!). 

August 17, 2016

REVIEW : LIGHTS OUT


“Sometimes the strongest thing to do is to face your fear.” 

Tahun lalu, seorang kawan mengenalkanku pada sebuah film horor pendek berjudul Lights Out yang diunggah oleh akun bernama ponysmasher di YouTube. Durasinya singkat saja, sekitaran tiga menit, tapi daya teror yang dibawanya sanggup membuat penonton-penonton berhati lemah enggan lagi untuk mematikan lampu sampai kurun waktu cukup lama. Efektifitas penempatan metode menakut-nakutinya di tengah terbatasnya durasi dan (pastinya) bujet layak memperoleh acungan dua jempol. Ponysmasher atau David F. Sandberg tidak hanya memberi rasa takjub lewat Lights Out semata karena penelusuran didasari kepenasaran tingkat tinggi akan karya-karyanya mempertemukanku dengan film-film seram lain darinya yang tidak kalah menggedor jantung, seperti Pictured, Cam Closer, serta Coffer. Dengan popularitas kian menjulang akibat masifnya penyebaran Lights Out lewat media sosial, tinggal menunggu waktu bagi sang sutradara untuk mendapat ajakan berkolaborasi dari para petinggi Hollywood. Benar saja, hanya terhitung tiga tahun sejak versi pendeknya mulai menjumpai penggemarnya, Lights Out mendapatkan kesempatan menghiasi layar-layar bioskop dunia dalam wujud film panjang. 

August 16, 2016

REVIEW : SADAKO VS. KAYAKO


Pernah menjumpai sebuah film yang kadar ketololannya maksimal sampai-sampai terasa menghibur buat ditonton? Jika belum, deskripsi tersebut tepat buat dilekatkan pada Sadako vs Kayako. Hanya dengan mendengar gagasan mempertarungkan dua hantu ikonik asal negeri Sakura saja sudah bikin geli-geli gimana gitu. Terlalu naif kalau menduga Sadako vs Kayako akan memberimu kengerian selayaknya jilid awal dari franchise yang dibintangi kedua demit ini – Sadako dari Ring, sementara Kayako dari Ju-On – mengingat sejarah mencatat pertandingan satu lawan satu antar karakter film horor legendaris seperti tampak dalam Freddy vs Jason (2003) maupun Alien vs Predator (2004), kesemuanya berakhir sebagai lawakan alih-alih teror nyata. Dan ya, meski dipunggawai Koji Shiraishi yang pernah memberikan mimpi buruk lewat The Curse (2005), Sadako vs Kayako memang sama sekali tidak mencoba untuk tampil serius. Jadi jangan heran jika kamu akan mendapati serentetan keganjilan-keganjilan menggelikan bertebaran sepanjang durasi merentang. 
Mobile Edition
By Blogger Touch