February 19, 2011

REVIEW : SHAOLIN


Kolaborasi Andy Lau dan Jackie Chan menjadi daya tarik utama tersendiri dari film yang merupakan versi baru dari The Shaolin Temple, film debut Jet Li, ini. Sedianya akan dirilis pada tahun 2010 namun karena beberapa hal terpaksa diundur ke awal tahun 2011 untuk menyambut perayaan Imlek. Shaolin yang berdana besar ini, konon sampai menghabiskan $30 juta, dibuat oleh salah satu sineas berbakat di Hong Kong, Benny Chan. Benny sudah berulang kali bekerja sama dengan Jackie Chan, beberapa diantara yang populer adalah Who Am I?, New Police Story dan Rob-B-Hood. Beban yang harus dipikul oleh Benny tentu tidak ringan apalagi mengingat The Shaolin Temple adalah film yang legendaris dan sedikit saja kesalahan bisa membuat Shaolin mendapat kritikan pedas dari fans Jet Li maupun filmnya sendiri. Namun bagi saya pribadi, Benny Chan tergolong sukses menghadirkan remake dari The Shaolin Temple ini. Bekerja sama dengan penulis naskah, Alan Yuen, film bergerak dengan cepat tanpa perlu banyak basa basi. Durasi 130 menit dimanfaatkan dengan sangat baik.

Jenderal Hou Jie (Andy Lau) memang dikenal sebagai seorang yang sombong dan kejam. Dia tak segan membunuh siapapun yang menghalanginya, meski itu berarti harus membunuh di biara shaolin. Yang tak diketahui oleh orang banyak adalah Hou Jie sangat mencintai keluarganya dan negerinya sendiri, tak heran jika dia menolak mentah - mentah untuk bekerja sama dengan pihak asing yang menurutnya hanya ingin mengeruk kekayaan dari China semata. Hal ini membuat Cao Man (Nicholas Tse), orang kepercayaan Hou Jie, geram. Dia pun merencanakan kudeta saat Hou Jie melaksanakan acara makan malam perjodohan bersama Song Hu (Shi Xiaohong). Adegan kudeta ini berlangsung menegangkan dan membuat Hou Jie terpaksa membunuh sahabatnya sendiri. Bersama dengan anak dan istrinya, Hou Jie pun memutuskan melarikan diri. Malangnya, anak perempuan Hou Jie meninggal dalam pelarian. Dalam kondisi yang tidak stabil karena kehilangan anak, jabatan dan harta, Hou Jie pun dicampakkan oleh istrinya, Yan Xi (Fan Bingbing). Demi mencari perlindungan dan ketenangan dalam hidup, Hou Jie memutuskan bersembunyi di biara Shaolin. Beruntung dia disambut dengan baik disini. Perkenalannya dengan sang juru masak, Wudao (Jackie Chan), membuatnya memandang hidup dari perspektif lain. Bertobat, Huo Jie menjalani kehidupan sebagai biarawan di biara Shaolin.

Namun Huo Jie masih belum bisa tenang sepenuhnya karena Cao Man yang sekarang menjadi penguasa masih mengincar nyawanya. Di bawah pemerintahan Cao Man, Dengfeng menjadi carut marut dengan jumlah pengungsi dan korban perang yang meningkat drastis. Huo Jie mencoba untuk membuat Cao Man bertobat, tapi ambisi dan kesombongan telah membuat hati Cao Man sekeras batu. Bukannya menuruti perkataan mantan atasannya itu, Cao Man justru melancarkan serangan ke biara Shaolin. Yang perlu dipersiapkan sebelum menonton Shaolin selain mood yang baik adalah persediaan tissue yang banyak. Sejak menit awal, Benny Chan menuturkan kisah dalam Shaolin dengan suram, hampir tak ada sedikit pun kebahagiaan di dalamnya. Disinilah kehadiran Jackie Chan menjadi efektif. Meski hanya dipasang sebagai pemeran pembantu saja, Jackie berhasil mencuri perhatian penonton. Humor dan tingkah lakunya yang kocak mampu mencairkan suasana untuk sejenak setelah sebelumnya dibuat tegang melulu. Andy Lau dan Nicholas Tse bermain apik dan cukup meyakinkan, begitu juga dengan Fan Bingbing yang tangisannya mampu merobek hati para penonton.

Bujet dimanfaatkan dengan baik, seakan Benny tak membuat uang sebanyak itu terbuang percuma. Adegan peperangan dan setting digarap dengan detil, namun yang paling memukau tentu saja pertumpahan darah di biara Shaolin pada akhir film. Menegangkan, menakjubkan, tetapi juga mengiris hati. Tentu saja Shaolin tak luput dari kesalahan karena tak ada satupun yang sempurna di dunia ini. Naskah buatan Alan Yuen meski cukup bagus, nyatanya masih meninggalkan lubang disana sini terlebih dengan plot Shaolin yang terbilang biasa saja. Penonton yang mengharapkan tontonan full action pun mungkin akan dibuat agak kecewa. Meski ada beberapa adegan aksi yang menegangkan, secara keseluruhan rasanya lebih pas menyebut Shaolin sebagai film melodrama ketimbang aksi. Mengesampingkan segala kelemahan yang ada, Shaolin menjadi tontonan yang memuaskan bagi saya. Selama 130 menit, rasa bosan tak sekali pun menghampiri bahkan di kala adegan yang terasa tak penting sekali pun. Adegan aksinya seru dengan koreografi dari Corey Yuen yang menawan, dramanya mampu menguras air mata dan komedinya sanggup beberapa kali bikin tergelak. Shaolin sanggup membuat saya tegang, menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Film yang sangat menarik.

Exceeds Expectations

Trailer :


No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch