March 23, 2012

REVIEW : THE HUNGER GAMES


"They just want a good show, that's all they want."

Bersetting di masa depan dimana dunia mengalami kehancuran setelah perang nuklir dan Amerika Serikat terpecah belah menjadi ke beberapa area baru. Di sebuah area yang bernama Panem, kita diperkenalkan kepada sebuah permainan ekstrim tahunan yang menjadi judul dari film ini, The Hunger Games. Dua puluh empat remaja usia belasan, masing-masing terdiri dari dua belas laki-laki dan dua belas perempuan, yang terpilih secara acak dimana mereka mewakili dua belas distrik di Panem dilepaskan ke alam bebas hingga hanya satu orang saja yang selamat. Sang pemenang akan mendapatkan hadiah berupa kehormatan, ketenaran, dan persedian pangan untuk keluarga. Plotnya sedikit banyak mengingatkan saya pada Battle Royale, film buatan tahun 2000 asal Jepang yang diadaptasi dari novel berjudul sama, yang mengisahkan sejumlah siswa bermasalah yang dikirim ke sebuah pulau terpencil untuk saling membunuh dan pemenangnya adalah siswa yang terakhir bertahan. Yang mendasari munculnya kedua permainan ini sama, terjadinya degradasi moral. Apabila dirunut lebih jauh, para remaja ini hanyalah sekumpulan remaja biasa yang dijadikan kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan oleh para penguasa. Dihimpit oleh keadaan yang serba tidak menguntungkan, rakyat-rakyat kecil ini pun manut saja dengan permainan yang dirancang oleh para penguasa yang lalim.

Tokoh utama dari The Hunger Games adalah dua Tribute – sebutan untuk peserta terpilih – dari distrik termiskin di Panem, Distrik 12, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson). Ada yang unik disini. Berbeda dengan film hasil adaptasi novel remaja kebanyakan, Katniss tidak digambarkan sebagai gadis lemah yang senantiasa merengek meminta perlindungan. Mandiri, kuat dari segi fisik dan mental, serta mahir menggunakan busur dan panah, Katniss malah terkesan lebih maskulin ketimbang Peeta. Suzanne Collins, sang penulis novel yang juga bertindak selaku penulis naskah, menempatkan Katniss sebagai pelindung bagi Peeta. Jennifer Lawrence memainkan perannya dengan amat baik dan meyakinkan. Tidak heran, Katniss sedikit banyak memiliki kemiripan karakter dengan Ree Dolly di Winter’s Bone. Josh Hutcherson mengalami peningkatan akting disini. Beradu akting bersama Lawrence, Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Stanley Tucci dan Donald Sutherland rupanya memicu semangat Hutcherson untuk mengerahkan kemampuan terbaiknya.

Disandingkan dengan Battle Royale, The Hunger Games terasa lebih tidak manusiawi karena pertarungan antar Tribute dari dua belas distrik ini disajikan secara live melalui sebuah acara realitas. Ada kemiripan dengan The Condemned disini. Tapi lagi-lagi, masih lebih bermoral ketimbang apa yang dilakukan oleh Seneca Crane (Wes Bentley), penanggub jawab The Hunger Games. Dua puluh empat remaja tak bersalah dipaksa bertarung hingga mati demi memuaskan hasrat dari para manusia tidak beradab. Terkesan semakin barbar saat mengetahui bahwa peserta yang mengikuti acara ini adalah remaja berusia 12 hingga 18 tahun dengan sistem pemilihan acak. Maka pertarungan ini pun bersifat tak sehat karena kekuatan antar satu peserta dengan peserta lain tidak sebanding. Namun tentu saja Seneca dan para penguasa di kota Capitol tidak ambil pusing, terlebih ini akan menjadikan acara kian menarik untuk disimak. Untuk bertahan di Arena – tempat pertarungan – para Atribut ini pun membutuhkan sponsor yang akan menyuplai kebutuhan mereka selama bertanding. Caranya, dengan unjuk kebolehan sebelum memasuki Arena. Kemampuan yang mengesankan membuat Katniss lantas menjadi buah bibir. Apabila meminjam istilah dari para fans American Idol, maka Katniss adalah ‘frontrunner’ sementara Peeta adalah ‘cannon fodder’.

Lantas, apa sebenarnya tujuan diadakannya The Hunger Games? Berdasar video yang diputar setiap sebelum pemilihan Tribute dimulai, permainan ini bertujuan untuk mengenang kehancuran dari distrik ke-13 dan sebagai hukuman kepada distrik 1-12 atas kesalahan di masa lalu. Pada akhirnya, permainan ini justru menjadi manifestasi kekuasaan dan hiburan bagi pemerintah. Disiarkan secara live, dikemas dalam bentuk acara realitas, Collins seakan ingin mengritik moral masyarakat saat ini yang menggemari tontonan yang sarat akan kekerasan dan menjadikan orang yang dalam masalah pelik sebagai sebuah tontonan televisi yang menghibur di waktu senggang. Sisi kelam dari acara realitas yang nyatanya dipenuhi dengan kepalsuan dan ego produser yang tinggi turut disentil. Pun begitu, sang sutradara, Gary Ross – yang kita kenal melalui dua film apik, Pleasantville dan Seabiscuit, tidak berlama-lama dengan kritik sosial demi menghindari kejenuhan penonton. Setelah pesan dirasa telah cukup tersampaikan, The Hunger Games kembali ke jalur utamanya untuk menyajikan sebuah hiburan yang menyenangkan. Dan apakah hal itu berhasil? Saya akan menjawabnya, sangat berhasil. Adalah sebuah keputusan yang tepat menjadikan si pencipta novel sebagai penulis naskah. The Hunger Games adalah salah satu film adaptasi novel terbaik yang pernah saya tonton. Memesona, menegangkan, lucu, dan menyentuh. Durasinya yang cukup panjang, eksploitasi romantisme dan penggunaan handheld camera memang cukup melelahkan, namun The Hunger Games telah berhasil memenuhi ekspektasi saya sekalipun masih kurang berani dalam menonjolkan aksi kekerasan yang membuatnya terkesan canggung di beberapa bagian. Menghindari rating R, mungkin? Oia, jangan pernah samakan The Hunger Games dengan The Twilight Saga. Keduanya jauh berbeda.

Exceeds Expectations

14 comments:

  1. boleh komentar?
    sebenarnya "Orang yang Terpilih" itu di bukunya disebut Tribute.
    Saya juga nonton tadi malam, lumayan stick to the original story.

    ReplyDelete
  2. Saya sih belum baca bukunya, tapi nonton filmnya juga bisa merasakan keseruan tersendiri. Agak kaget juga dengan future style dalam film ini, dimana orang-orangnya looks like dumb-weird people (selain ngadain reality show yg kesannya gak bermoral, pakainnya juga konyol,,hehe). Overall, I prefer this movie rather than twilight,hoho..

    ReplyDelete
  3. luv the books very much. cant wait to watch the movie

    evan cho

    ReplyDelete
  4. Betul bro, THG sama Twilight beda banget, tema-nya aja beda... :D


    Mungkin klo ada persamaan ya dibagian "mesin penghasil uang-nya"...

    Hehe...

    ReplyDelete
  5. Twilight jelas tidak bisa dibanding2kan dengan film fantasy macam THG, Harpot, etc.
    Sudah sukses nonton THG, skrg wktunya baca bukunya :D

    ReplyDelete
  6. menurut sy sih filmnya biasa aja,mudah ditebak jln cerita dan endingnya (ya sy tau msh ada kelanjutannya) byk adegan sling membunuh thd anak 12-16thn yg trlalu sadis..overall nothing special or something new.tp y balik lg tergantung selera masing2 sih.wlwpun ktnya novel best seller,tp bagi sy blm ada yg bisa menyaingi en mrngalahkan kekompleksan cerita dari novel harry potter.

    ReplyDelete
  7. Buat gw filmnya malah terasa ngebosenin. Bagian paruh awalnya terlalu datar & bertele-tele. Terus adegan pembuka gamesnya pas para pemainnya bacok-bacokan sebenarnya bisa jadi adegan pembuka untuk nunjukkin seberapa keras gamenya. Tapi adegan itu malah dibikin ala film bisu pake efek kamera goyang-goyang, jadinya gregetnya ilang

    Pas di hutan juga ga ada unsur ketegangan ala survival-nya & alurnya cenderung lambat. Baru pas filmnya mau abis, ketegangannya baru mulai kerasa...

    ReplyDelete
  8. Saya setuju dgn pernyataan film ini mrp film adaptasi novel yg baik.
    saya sudah menonton filmnya, sekaligus membaca ketiga buku trilogy-nya. Pertamanya saya males mo menonton film ini krn saya "trauma" dgn film adaptasi novel remaja semenjak booming Twilight Saga, awalnya saya pesimis film ini bakalan menjadi another film menye2 dibalut percintaan picisan.
    Tapi ternyata saya salah besar!! Pemilihan Jenifer Lawrence sbg Katnis bnr2 tepat: hot n dangerous. JH sbg Peeta jg cukup baik, sbg pria biasa, tdk terlalu tampan, tdk jagoan, namun berani dan berkepribadian menarik. Film ini jg berusaha tetap di jalur plot novel walaupun dipadatkan, selain itu film ini detail dlm menggambarkan adegan n hal2 kecil di dalam buku, semisal : lagu Rue's Lulaby, baju2 Katniss yg sangat menggambarkan passion SC dlm dunia fashion, bahkan pertarungan Bloodbath -walau dgn kamera goyang2- dapat menggambarkan betapa kekejaman Reality Show tsb. Bahkan tatanan rambut Katnis "signature braids"-nya digambarkan dgn sangat detail, dan kemungkinan besar bakalan menjadi tatanan rambut tren 2012.
    Overall, film satir ini mampu menyindir semua sisi yg sedang trend di masa ini : politik, kekuasaan, reality show, infotainment, sekaligus fashion2 terkini. =)
    I like this movie a lot.

    ReplyDelete
  9. Film hunger game adalah film busuk kelas kecoa!!kenapa saya mengatakan seperi itu. film hunger game adalah film thriller, dimana seharusnya banyak adegan saling bunuh dan ketegangan. tapi ternyata tidak ada greget sama sekali, terlalu banyak adegan bertele-tele.
    Logika orang akan saling bunuh adalah takut dan tegang, tapi di hunger game mlah wawancara gembira, peraturan game di awal film adalah 1 pemenang, di tengah film 2 pemenang. tapi di ending di ganti lagi 1 pemenang.Efek film ini juga buruk. gerak macan terlihat patah2 di film.
    Kesimpulan : hunger game sangat tidak layak di sejajarkan dengan film2 box office lain.apalagi dengan harry potter. skor IMDB pribadi saya untuk film ini adalah 1,5.

    ReplyDelete
  10. @tuanputriburukrupa, Terlihat di komentar,anda adalah jenis anak allay dalam pemerhati film, yang gembira hanya dengan melihat film remaja sejenis hunger game.walaupun saya tau yang namanya film adalah selera masing2, tapi Bagaimana mungkin film sesederhana dan sekelas hunger game dikatakan mampu menyindir politik dan fashion.WTF..........Are you kiiding me?????

    ReplyDelete
  11. Sehari tanpa film bagaikan
    setahun tanpa hujan. ☺✔ I likes this.. Hunger Games buat gw film'ny rame ko...

    ReplyDelete
  12. hihihi baru baca komen yg tertuju kepada saya.. :D
    @tompeljogja iyes, saya memang abege alay, tapi waktu tahun 90-an.. *satir
    btw ada link niy dari wawancara alay-nya hollywood, mohon dibaca ya..

    TeenHollywood: One of the messages in this film is that being glued to reality television might not be so good. Do you watch reality TV?

    Jen: This film is a huge message against reality television and I am exactly in that generation that is obsessed with it. I am just as bad as everybody else. I love reality TV. I love “Doomsday Preppers.” I think it’s on NATGEO. It’s about people who base their entire lives around preparing for the Apocalypse. It is absolutely fascinating.

    link : http://www.teenhollywood.com/2012/03/12/jennifer-lawrence-katniss-gets-real

    ReplyDelete
  13. Film The Hunger Games adalah adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama. Film The Hunger Games sebenarnya adalah awal dari sebuah trilogi. Film lanjutannya, The Hunger Games: Catching Fire akan dirilis 22 November 2013 di USA. The Hunger Games: Mockingjay Part 1 akan dirlis 21 November 2014 di USA. The Hunger Games: Mockingjay Part 2 akan dirilis 20 November 2015. Jadi, jalan ceritanya masih panjang sekali. :) Ibaratnya, film The Hunger Games masih appetizer-nya saja. Main course dan dessert-nya belum disajikan.

    Banyak yang berkomentar bahwa The Hunger Games adalah film penuh kekerasan dan semacamnya. Tapi, perlu ditilik dan diteliti lagi, bahwa tema The Hunger Games sebenarnya "berat". The Hunger Games mengangkat segala konflik yang ada; politik, kesenjangan sosial, dan sebagainya yang memang bisa dibilang "berat". Menurut saya, bagi yang belum membaca trilogi novelnya, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bila hanya menonton dari film pertamanya saja. Film keduanya akan rilis tahun ini (2013), dan mudah-mudahan akan rilis di Indonesia dengan tanggal yang sama di USA. :)

    The Hunger Games dimulai karena pemberontakan pada masa lalu oleh ketiga belas distrik dan Distrik 13 dibom. Sisanya tinggal 12 distrik saja. Sebagai balasan dari Capitol, maka diadakanlah Hunger Games untuk menunjukkan kepada penduduk di setiap distrik bahwa mereka berada di bawah belas kasihan Capitol. Seusai Hunger Games ke-74 yang diikuti Katniss Everdeen dan Peeta Mellark, Katniss baru menyadari bahwa ia sudah memicu sebuah percikan yang akan menimbulkan pemberontakan. Di The Hunger Games: Catching Fire, akan banyak sekali adegan penuh kejutan dan plot yang juga akan penuh kejutan. :) Jadi, film ini hanyalah sebuah appetizer.

    Semoga komentar saya dapat membantu. :) Dan ayo, baca ketiga novelnya dan sebarkan virus The Hunger Games di Indonesia. Terima kasih. ^^

    ReplyDelete
  14. Seperti kata Katniss Everdeen di novel pertama dari trilogi The Hunger Games, yaitu The Hunger Games: "Untuk membuatnya lebih memalukan dan menyiksa, Capitol mengharuskan kami memperlakukan Hunger Games sebagai perayaan, peristiwa olahraga yang membuat satu distrik berkompetisi dengan distrik lainnya." Dan ingat, bahwa penduduk di Capitol tidak perlu mengikuti The Hunger Games. :) Wawancara sehari sebelum The Hunger Games bersama Caesar Flickerman adalah untuk mendapatkan simpati para sponsor yang dimana akan membantu para Tributes di arena nanti. Tidak semua elemen di novel The Hunger Games dibawa ke filmnya, jadi akan sedikit membingungkan. Semoga membantu! Salam tiga jari. *3fingerssalute* :)

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch