October 31, 2012

20 FILM HOROR PILIHAN CINETARIZ UNTUK HALLOWEEN


Fuh, akhirnya kelar juga menuntaskan tulisan '20 Film Horor Pilihan Cinetariz Untuk Halloween' setelah berhari-hari lamanya saya mengalami dilema mengenai film-film yang mana saja yang lolos ke 20 besar dan mana saja yang terpaksa dieliminasi. It's not easy, Man. Banyak film bagus yang terpaksa saya singkirkan karena satu dan lain hal, namun yang jelas mayoritas film yang menduduki kursi empuk di '25 Film Paling Mencekam Dekade Lalu' Bagian 1 dan Bagian 2 tidak saya sertakan di sini kecuali Shaun of the Dead, Drag Me to Hell, dan Trick 'r Treat.

Nah, yang menjadi pertanyaan utama... Apa yang menjadi dasar mengapa film ini terpilih sementara film ini gugur? Tidak ada patokan utama, namun yang pasti, ini semua disusun berdasarkan selera saya secara pribadi. Daftar ini tidak memuat film-film horor terbaik menurut saya, melainkan film-film horor mana saja yang mengasyikkan dijadikan sebagai tontonan di 'Halloween Night'. Oh, tentu saja ini bersifat subyektif. Karena yang mengasyikkan bagi saya, belum tentu mengasyikkan bagi Anda, bukan? Begitu pula sebaliknya. Dan film-film yang gagal lolos pun bukan berarti tidak mengasyikkan, hanya saja... kurang beruntung. Menyeleksi lebih dari 50 film untuk dijadikan 20 film butuh pengorbanan. Saya berderaian air mata saat harus menyingkirkan film A, film B, maupun film C (Oke, ini lebay). Ketika daftar akhir muncul, saya pun masih diliputi penyesalan mengapa film tertentu tidak saya loloskan saja. 

Well... Ketimbang saya berceloteh kesana kemari hingga melebar kemana-mana dan membuat Anda jenuh setengah hidup, maka lebih baik saya langsung saja masuk ke inti tulisan ini. Jika kemudian Anda menginterupsi dan bertanya "apakah Halloween itu?", maka saya akan menjawab "Google!". Dengan penuh rendah hati, semangat membara, dan kepala pusing tidak karuan, saya mempersembahkan "20 Film Horor Pilihan Cinetariz Untuk Halloween". Cekidot, Gan!

** Beberapa film lain yang wajib Anda coba:

- Suspiria
- The Blair Witch Project
- The Sixth Sense
- Hellraiser
- Creepshow
- The Haunting
- Alien
- Dawn of the Dead
- Rosemary's Baby
- An American Werewolf in London
- Final Destination
- Poltergeist


#20 I Know What You Did Last Summer 
Screw the critics! I love this movie. Sudah tidak terhitung berapa kali saya menontonnya, tidak ada sedikit pun rasa bosan yang menghinggapi dan tetap mengasyikkan untuk ditonton ulang. Tonton bersama teman-teman atau orang terkasih di malam Halloween, dijamin akan menjadi malam ‘nonton bareng’ yang menyenangkan. 


#19 Ginger Snaps 
Kehidupan dua gadis penyendiri dengan minat dan perilaku yang aneh sontak berubah drastis setelah seekor ‘werewolf’ menggigit salah satu dari mereka. Dengan ‘dark comedy’ melingkupi dan tone yang senantiasa muram, film ini memberi perasaan tidak nyaman kepada penonton sebelum akhirnya digiring kepada klimaks yang mendebarkan. 


#18 Jeepers Creepers 
Ini adalah salah satu film horror seram asal negeri Paman Sam yang sayangnya kurang mendapat pengakuan di ranah internasional. Victor Salva berhasil menyajikan teror tiada henti sejak film dimulai hingga berakhir. Dengan si makhluk misterius yang malu-malu menampakkan diri, atmosfir yang mencekam serta diringi lagu ‘Jeepers Creepers’, bulu kuduk seketika merinding. Hiii... 


 #17 Idle Hands 
Kritikus boleh saja mencaci film ini, hasil box office pun boleh saja flop, tapi Anda jangan melupakan Idle Hands saat hendak merayakan ‘Halloween Night’. Ini adalah pilihan yang sangat cocok, terlebih untuk Anda yang menghindari tontonan yang terlalu seram. Filmnya memang kadang menjijikan dan bodoh, namun disitulah letak kesenangannya. 


#16 Jelangkung 
Inilah salah satu film yang dianggap sebagai tonggak bangkitnya perfilman Indonesia. Hanya dengan bermodalkan ide yang sederhana, duo Rizal Mantovani dan Jose Poernomo sanggup menyajikan sebuah tontonan yang mampu membuat siapapun bergidik ngeri dan sulit memejamkan mata di malam hari. Sebuah pencapaian yang sayangnya gagal diulang oleh mereka berdua di film-film mereka selanjutnya. 


#15 Sleepy Hollow 
Saya menonton film ini kala masih duduk di bangku kelas 5 SD dan sukses terbayang-bayangi hingga beberapa tahun ke depan. Sleepy Hollow menjadi cikal bakal munculnya rasa kagum saya kepada Tim Burton. Kekuatan utama dari film ini terletak pada ‘art direction’ yang megah dan performa dari Johnny Depp. Dalam visualisasi Burton, desa ‘Sleepy Hollow’ nampak bagaikan mimpi buruk. Dan jangan lupakan ‘The Tree of the Dead’ serta si penunggang kuda yang menyeramkan itu. 


#14 Night of the Living Dead 
Ada sedikit perasaan geli saat menyaksikan film ini terutama jika sudah terbiasa dengan zombie ganas tak kenal ampun yang wara wiri di zaman modern ini. Tapi, bagaimanapun, sulit untuk menampik bahwa ini adalah salah satu film zombie terbaik yang pernah dibuat. Menegangkan, jelas. Bahkan, meski untuk masa kini tak terlalu sadis, masih ada beberapa momen yang lumayan bikin jijik dan memalingkan muka dari layar. Setelah menyaksikan Night of the Living Dead, akan semakin seru jika dilanjut dengan melahap sekuel-sekuelnya yang juga tak kalah menegangkan, khususnya Dawn of the Dead (baik versi asli maupun remake).


#13 Shaun of the Dead 
Oh, saya suka sekali dengan film zombie asal Inggris yang satu ini. Salah satu film horor komedi terbaik dari dekade lalu... bahkan, mungkin, sepanjang masa. Sangat menghibur, menegangkan, dan menyenangkan untuk ditonton. Menyaksikan film ini membuat saya melupakan kepenatan hidup untuk sejenak. Duo Simon Pegg dan Edgar Wright memang belum pernah membuat saya kecewa. 


#12 The Changeling 
The Changeling adalah film horor asal Kanada yang dikomandoi oleh Peter Medak. Tidak ada hantu banci tampil dalam film horor mengenai teror rumah berhantu ini. Murni hanya mengandalkan nuansa rumah yang membuat bulu kuduk berdiri dan suara derap langkah kaki. Saksikan sendiri di malam hari saat rumah sedang kosong dengan volume maksimal, maka Anda akan mendapat satu pengalaman tak terlupakan. Hati-hati saat Anda mendengar suara derap langkah kaki, jangan-jangan itu adalah... 


#11 Trick ‘r Treat 
Tidak ada yang menduga jika film antologi horor yang penayangannya berulang kali ditunda hingga akhirnya langsung dipasarkan via home video ini ternyata cukup mengerikan juga. Michael Dougherty menghadirkan kengerian khas film-film horor tahun 1990-an dengan bumbu ‘twist ending’ yang tepat sasaran. Menonton film ini bersama teman, atau sendirian, setelah ber-trick or treat ria tentu menjadi pilihan yang tepat. 


 #10 The Texas Chainsaw Massacre 
Dibiayai dengan dana yang terbilang rendah, Tobe Hooper menelurkan sebuah karya yang menggemparkan, menghantui sekaligus mengganggu. Tanpa memerlukan galonan darah, Hooper mampu membuat penonton merasa ngeri melihat aksi biadab dari Leatherface dan keluarganya kepada para tamu yang bersilaturahmi ke rumah mereka. 


#9 A Nightmare On Elm Street 
Apabila diminta untuk menulis satu nama yang kehadirannya sama sekali tidak saya inginkan di dalam mimpi saya, maka itu adalah Freddy Krueger. Bagaimana tidak. Dia tidak hanya merubah mimpi indah menjadi mimpi buruk, tetapi juga membuat Anda berhenti bermimpi untuk selamanya. Dan itulah yang terjadi kepada sejumlah remaja dalam A Nightmare On Elm Street. Sebuah ide yang terbilang unik ini diejawantahkan ke dalam bentuk tontonan yang meneror dan menyeramkan oleh Wes Craven.


#8 Drag Me to Hell 
Ini adalah salah satu film horor anyar yang sangat saya sukai. Benar-benar menikmatinya saat menontonnya di layar lebar. Berteriak dan tertawa keras di waktu yang nyaris bersamaan. I really had a good time. Sam Raimi tahu betul bagaimana caranya mencampurkan horor dengan komedi. Porsinya berimbang dan tidak saling melukai satu sama lain. Alih-alih ketakutan kala menyaksikannya, saya malah justru sangat terhibur. 


#7 The Evil Dead / The Evil Dead II 
Oh, sebelum melahap Drag Me to Hell, ada baiknya Anda mencicipi dwilogi The Evil Dead yang membesarkan nama Sam Raimi. Sebagai salah satu sumber inspirasi The Cabin in the Woods, The Evil Dead membawa penonton ke dalam teror satu malam yang mencekam, sadis, mengerikan, sekaligus mengundang tawa. Bukti bahwa jika ditangani secara tepat, horor dan komedi bisa menjadi rekanan yang serasi. 


#6 Scream 
Sungguh, susah untuk melupakan adegan pembuka dari Scream yang sedemikian memorable. Anda pun pastinya masih belum bisa menyingkirkan bayangan topeng ‘Ghostface’ yang luar biasa beken itu dari benak Anda, ya kan? Inilah pelopor munculnya film slasher dengan tokoh utama para remaja. Scream menggabungkan teror pembunuhan dengan satir yang mengejek keklisean film-film horor klasik ke dalam satu wadah. Hasilnya... sebuah film yang brilian. 


#5 The Omen 
Lupakan versi remake-nya yang kering itu, saksikan saja The Omen versi original keluaran tahun 1976 yang mencekam. Kisah seorang bocah ‘anti-Kristus’ berwajah innocent namun mengerikan ini ditangani oleh Richard Donner dengan cermat dan berpadu dengan apik bersama naskah yang rapi, akting menawan, dan musik skor yang menghantui. Anda berani menyaksikan film ini sendirian di rumah? 


#4 Ringu 
Ketika saya membaca versi novelnya, saya sempat berhenti selama beberapa hari karena terlalu menyeramkan dan mengganggu untuk saya. Dalam versi film, untungnya (atau malah sialnya) tidak semengerikan sumber aslinya. Pun begitu, Ringu dengan dukungan atmosfirnya yang suram, dingin, nan menakutkan, berhasil membuat saya terperanjat dari kursi beberapa kali dan menutup mata dengan bantal terlebih di 15 menit terakhir. Sadako merangkak keluar dari televisi dan potongan-potongan gambar dari video terkutuk masih membekas di ingatan hingga sekarang. 


#3 The Shining 
Film arahan Stanley Kubrick ini memiliki durasi yang terbilang panjang, mencapai 144 menit! Lah, apa saja yang hendak disampaikan dalam sebuah film horor hingga durasinya membengkak? Kesabaran Anda benar-benar diuji disini. Kubrick membangun ketegangan secara perlahan-lahan. Jack Nicholson dengan aktingnya yang brilian berhasil menampilkan perubahan kejiwaan tokoh yang diperankannya setapak demi setapak. Dan jika Anda adalah termasuk orang yang sabar, maka nikmatilah gelaran 30 menit terakhir yang mencekam. Here's Johnny... 


#2 The Exorcist 
Jauh sebelum film horor yang mengangkat tema pengusiran setan populer di tahun 2000’an, telah muncul The Exorcist yang tingkat kengeriannya belum bisa dilampaui hingga kini oleh film-film tersebut. Menyeramkan, mengganggu, dan mengejutkan. Tingkah polah Regan kala dirasuki oleh setan dan atmosfir kamarnya masih menghantui hingga kini. Sulit untuk dilupakan begitu saja. 


#1 Halloween 
Untuk yang satu ini saya tidak perlu menjelaskan alasannya dalam bentuk puluhan kata. Jelas ada sesuatu yang salah – dan tentunya kurang afdol – jika merayakan ‘Halloween Night’ tanpa menyaksikan Halloween karya John Carpenter, salah satu film horor klasik terbaik yang pernah dibuat oleh Hollywood dan kerap dijadikan pijakan oleh berbagai film ‘slasher’ yang rilis setelahnya, ini.

Ini pilihanku, apa pilihanmu?

October 27, 2012

REVIEW : END OF WATCH


"We're cops, everyone wants to kill us." - Taylor 

Apakah Anda pernah menyaksikan Cops yang ditayangkan oleh kanal berbayar, Fox Crime, saban hari? Acara realita tersebut mengikuti beberapa petugas polisi yang tengah berpatroli dan memerlihatkan sepak terjang mereka kala berjibaku dengan sejumlah pelaku tindak kriminal. Film ketiga dari David Ayer setelah Harsh Times dan Street Kings yang diberi titel End of Watch ini mempunyai gaya tutur yang nyaris senada dengan acara realita peraih empat nominasi Emmy tersebut. Selama kurang lebih 109 menit, Anda akan diajak oleh Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Pena), rekanan di Los Angeles Police Department, menyusuri jalanan di Los Angeles bagian selatan dimana kriminalitas merajalela sehingga memaksa para petugas yang diterjunkan ke wilayah ini untuk senantiasa waspada setiap saat. Ayer menyampaikan kisah dua sahabat ini dengan menerapkan teknik kamera handheld yang membuat film menyerupai sebuah tayangan reality show. Ya, seperti yang saya tulis di awal paragraf, End of Watch mengingatkan pada Cops. Apabila Anda menggemari Cops, maka tentu sulit bagi Anda untuk menampik pesona dari End of Watch

Tidak seperti film bergaya mockumentary kebanyakan, film garapan Ayer ini menghindari sebuah pola penceritaan yang runtut dengan tata waktu simetris. End of Watch diperlakukan selayaknya sebuah acara realita. Seolah-olah ada seorang produser dengan kewenangan penuh dalam menentukan potongan-potongan peristiwa mana saja yang sekiranya mampu mengundang perhatian penonton yang akan dimasukkan ke dalam film. Itulah mengapa film loncat kesana kemari. End of Watch mengawali kisah dengan sebuah ‘car chase scene’ yang cukup seru dimana aktivitas tersebut direkam oleh Brian untuk proyek filmnya. Pengejaran tersebut berakhir petaka setelah Brian dan Mike memberondong para tersangka dengan tembakan. Aksi kedua polisi ini mendapat teguran, terlebih keputusan Brian untuk memfilmkan setiap hela nafas kehidupannya mengganggu para rekan kerjanya terutama Van Hauser (David Harbour). Menit demi menit berikutnya, penonton digiring untuk menyaksikan rangkaian tindakan heroik – dan tidak jarang, tolol, iseng, dan menjengkelkan – dari kedua tokoh utama film ini. 

Di sela-sela rutinitas pekerjaan yang beresiko tinggi, Ayer tidak lupa untuk memperkenalkan latar belakang dari Brian dan Mike walau hanya sebatas pada kehidupan asmara mereka. Mike telah memiliki seorang istri, Gabby (Natalie Martinez). Keduanya tengah menanti momongan pertama mereka. Sementara Brian yang terbiasa gonta-ganti pasangan akhirnya bertekuk lutut saat bertemu dengan Janet (Anna Kendrick). Dikemas dalam bentuk percakapan santai penuh humor, subplot ini menjadi pencair ketegangan seusai mengikuti duo sahabat ini berpatroli di kawasan yang penuh dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Dengan adanya persaingan panas antara kartel dari Mexico dengan kartel kulit hitam untuk menguasai wilayah, maka sudah jelas nyaris tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bersantai. Berhenti di pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan melahap donat? Bisa saja dilakukan jika Brian dan Mike memutuskan untuk menjadi polisi malas atau polisi korup. Untungnya, Ayer tidak menggambarkan mereka seperti itu. Brian dan Mike dikisahkan sebagai sosok yang gemar menantang maut dan mengambil resiko saat tengah bertugas. Inilah yang kemudian menuntun mereka kepada ‘villain’ utama dari film ini yang.... harus Anda cari tahu sendiri. 

Sungguh menyenangkan menyaksikan sebuah film dimana Anda merasa seolah-olah ikut terlibat di dalamnya. Tidak ada satupun momen dalam End of Watch yang membuat saya terkulai lemas kebosanan atau menguap lebar-lebar di dalam bioskop. Kerjasama yang solid antara pemain dan kru membuat Ayer mampu mengarahkan film ketiganya ini secara maksimal. Kekuatan utama dari film ini terletak pada naskahnya yang patut mendapat acungan jempol dimana dialog-dialognya yang mengalir lancar mampu menggambarkan keintiman dari setiap tokoh di film ini; baik Brian, Mike, Gabby, maupun Janet. Dari sinilah Ayer membangun ikatan antara penonton dengan setiap tokoh di film ini. Menyaksikan mereka berinteraksi dengan dialog-dialog yang seru, menggelikan, sekaligus menyentuh. Dengan hadirnya ikatan, maka rasa empati penonton pun secara otomatis tumbuh. Apapun yang dilakukan oleh keempat tokoh utama film ini, saya peduli. Saya merasa kenal dekat dengan mereka. Saya merasa menjadi bagian dari lingkaran kehidupan mereka. Dan ini membuat film terasa menyenangkan. 

Chemistry yang terjalin antara Jake Gyllenhaal dan Michael Pena luar biasa padu, intim dan believable. Dengan sokongan naskah dan pengarahan yang mumpuni dari Ayer, mereka kian bersinar. Kala menyaksikannya, saya benar-benar dibuat percaya bahwa mereka adalah rekanan yang telah bekerjasama selama bertahun-tahun. Dinilai dari cara mereka beraksi di lapangan, berkomunikasi maupun bersenda gurau. Dua aktris, Natalie Martinez dan Anna Kendrick, dengan porsi tampil tidak terlalu banyak dan mengiaskan bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi pemanis mata, sanggup mengimbangi Gyllenhaal dan Pena. Anna Kendrick sekali lagi berteriak lantang, “berikan aku peran apapun, meski kecil sekalipun, aku akan melahapnya dengan habis!.” Di luar skrip yang matang dan dalam serta para pemain yang bermain apik, keunggulan lain dapat ditilik dari pengambilan gambar serta editing cekatan dari Dody Dorn. 

Memang, dengan mengaplikasikan teknik kamera handheld yang senantiasa bergerak dan penuh goncangan, konsekuensi yang kudu dihadapi adalah tidak semua penonton bisa menerimanya. Cukup memusingkan. Jika Anda mudah mual, bukan tidak mungkin akan muntah. Selain itu, sudut pandang yang terkadang kurang tepat – dimana seharusnya tidak ada kamera bertengger di beberapa sudut mengingat film ini mengusung gaya mockumentary – terasa mengganggu di beberapa kesempatan dan sedikit banyak menodai konsep realistis yang ingin diusung Ayer. Akan tetapi, dengan teknik inilah penonton justru lebih terkoneksi dengan apa yang tersaji di hadapannya. Seolah apa yang tengah disaksikan adalah peristiwa nyata, bukan sebuah film. Tentu saja hal ini sia-sia belaka jika tidak mendapat sokongan dari departemen lain, khususnya akting dan skrip. Maka sesuatu yang wajar jika Ayer melayangkan ucapan terima kasih setinggi-tingginya kepada para aktor yang telah berakting natural dan membangun chemistry yang meyakinkan serta intim. Pada akhirnya, End of Watch bukanlah ‘another buddy cop movie’ dengan konsep yang usang dan mudah ditebak. Memilih pendekatan baru untuk genre ini dengan mencampurkan found footage dan mockumentary, menyuntikkan hati, dan menyeimbangkan antara aksi, drama serta sedikit ‘teror’, End of Watch pun berakhir sebagai sebuah hidangan yang sederhana namun lezat. It’s gripping, intense, and fun. It brought every single one of my emotions out. I highly recommend it.

Exceeds Expectations



October 22, 2012

HALLOWEEN QUIZ


















Bukan, bukan. Kuis ini bukan diadakan dengan tujuan menyogok Anda supaya bersedia meluangkan waktu untuk vote, berpromosi ria dan berdoa untuk Cinetariz di ajang Axis Blog Awards 2012 dimana Cinetariz dinominasikan untuk kategori ‘Blog Film Terfavorit’. Saya sudah merancang kuis ini sejak jauh-jauh hari, namun karena kesibukan yang menguras energi serta waktu (Ceileh...) saya terpaksa menundanya dan baru memiliki kesempatan mempublikasikannya di blog saat ini. Kuis Cinetariz ini diselenggarakan demi memeringati Halloween yang jatuh pada tanggal 31 Oktober. Karena berhubungan dengan Halloween, tentu saja kuis ini akan berhubungan dengan film horor. Hadiah yang bisa Anda dapatkan dari ‘Halloween Quiz’ ini adalah DVD original The Orphan dan A Nightmare On Elm Street. Menggiurkan, bukan? Dan untuk bisa meraih kedua DVD tersebut secara cuma-cuma, Anda tidak perlu banting tulang kesana kemari hingga keringat mengguyur tubuh. Cukup dengan mengikuti instruksi yang akan saya berikan di bawah ini. 

Begini caranya. 

Sebutkan minimal satu judul film horor yang paling berkesan bagi Anda! Sertakan juga alasannya. 

Jawab pertanyaan di atas dan kirimkan melalui email ke Cinetariz@gmail.com dengan subject ‘Halloween Quiz’. Jangan lupa sertakan pula nama lengkap, usia, alamat lengkap, no telepon, serta akun Twitter. Untuk bisa mengikuti kuis ini, Anda wajib untuk terlebih dahulu follow @Cinetariz di Twitter. Mudah sekali, bukan? Kita tunggu email dari Anda paling lambat tanggal 31 Oktober 2012 pukul 24.00 WIB. Nanti akan saya pilih 2 pemenang beruntung yang akan diumumkan beberapa hari setelah batas akhir pengiriman kuis. 

Good luck!

October 17, 2012

AXIS BLOG AWARDS 2012


Jujur, saya termasuk orang yang paling malas membuka e-mail. Bukan apa-apa sih, cuma karena kesalahan di masa lalu sehingga kotak masuk dipenuhi dengan notifikasi yang seringkali tidak saya harapkan. Jarang sekali ada e-mail yang penting dan menggugah selera. Mungkin akhir-akhir ini saya mulai mencoba untuk rutin mengintip e-mail, setidaknya seminggu sekali, setelah saya ikut terlibat dalam sebuah acara yang akan digelar dua bulan lagi (Tunggu infonya, Guys!). Nah.. Entah angin apa yang berhembus di sekitar saya, hari Minggu kemarin (tanggal 14 Oktober 2012), saya mendadak bersemangat untuk melongok ke akun e-mail saya di GMail. Seperti biasa, notifikasi menumpuk... eh, menggunung! Duh. Hapus satu, dua, tiga, hingga belasan, saya menemukan sebuah judul yang membuat saya tergelitik untuk segera membukanya. Axis Blog Awards 2012. Apa pula ini. Segera saja, saya langsung melahap isinya. Kata demi kata, paragraf demi paragraf berlalu, saya kehilangan kata-kata. Tidak mampu berbicara. Benarkah ini? Dalam surat tersebut tertulis, Cinetariz dinominasikan untuk kategori Blog Film Terfavorit di AXIS Blog Awards 2012! 

Ini pasti bercanda. Saya cari kesana kemari info perihal acara ini dengan memanfaatkan Mbah Google dan jejaring sosial, namun saya tak menemukan apapun. Selesai membalas e-mail sesuai dengan permintaan, saya menghabiskan dua hari ke depan untuk menyelidiki acara ini. Rasanya, too good to be true. Maklum, blog saya kan digarap ala kadarnya. Masa sih bisa masuk nominasi? Setelah sabar menanti.... (Penantian yang panjang sebenarnya karena saya dihinggapi rasa penasaran yang teramant sangat) hari Rabu pun tiba. Kata pihak Axis, hari Rabu akan menjadi hari dimana jalur untuk vote dibuka. Menanti dengan sabar sambil gelundungan, menyeruput air limun, menyelesaikan sebuah pekerjaan, hingga (ini yang tidak aku suka) membaca ulang cerpen yang akan saya kaji sebagai Final Project. Ketika apa yang ditunggu-tunggu tiba, saya pun segera membuka link yang diberikan oleh pihak Axis. Dan benar saja... Cinetariz mendapat nominasi! Wow! Eits... itu masih belum seberapa. Setelah melihat siapa ketiga nominator lainnya, saya benar-benar tidak mampu melakukan apapun selama beberapa menit ke depan. Antara terkejut, bangga, dan minder. Saya dinominasikan bersama dengan dua rekan saya yang luar biasa, Amir at the Movies dan Cinema Poetica, serta... seorang kritikus film Indonesia bernama Eric Sasono! Baiklah, ini mimpi. Saya tutup saja akun Facebook saya dan menjalani kehidupan normal. Hahahaha... 

Kenyataannya, ini memang sungguh terjadi. Dan saya pun memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada AXIS serta tentu saja, kalian, para pembaca setia Cinetariz! Tanpa dukungan para pembaca setia, Cinetariz tidak akan ada apa-apanya. Makasih, teman-teman. Inilah deskripsi singkat mengenai Axis Blog Awards 2012: 

"AXIS Blog Awards adalah bentuk apresiasi AXIS terhadap dunia blog di Indonesia yang pertumbuhannya kian pesat setiap tahunnya. Semua nominasi merupakan blog-blog favorit pilihan AXIS, yang menurut kami telah sukses dalam memberikan informasi, hiburan dan kisah-kisah inspiratif sesuai bidangnya masing – masing serta telah memiliki pembaca setia." 

Oia, ini baru nominasi lho. Perjalanan untuk meraih kemenangan masih panjang. Dan untuk mencapai kesana, saya sangat membutuhkan dukungan dari kalian semua. Cara untuk mendukung Cinetariz sangat mudah kok. Klik link yang saya taruh di bawah ini, pilih kategori Film, dan vote! Semudah itu. Satu IP Address hanya bisa sekali vote dalam sehari, maka dari itu, ajak teman-teman ya buat bantu vote. Hahaha. Kalau kalian bersedia vote, besok Cinetariz akan bagi-bagi hadiah! Asyikkkkk.... (#Eh). 

Link --> http://www.facebook.com/AXISgsm/app_291600877615083

Bagi yang hendak vote melalui ponsel, bisa melalui --> http://bit.ly/filmfav

October 13, 2012

REVIEW : LOOPER

"I'm gonna fix this! I'm gonna find him, and I'm gonna kill him!"

Sekali lagi, salah satu sineas Hollywood menyuguhkan ramalannya mengenai masa depan dalam film terbaru garapannya. Tidak terlalu berbeda dengan para pendahulunya, ramalan ini pun bersifat pesimistis. Perekonomian di negeri adidaya Amerika Serikat runtuh yang berimbas pada munculnya organisasi-organisasi yang bergerak di bidang kriminalitas. Kekacauan terjadi dimana-mana, meski dalam imajinasi Rian Johnson, belum sampai pada tahapan seperti yang diperlihatkan oleh Children of Men. 30 tahun dari sekarang, selain kehancuran di sektor ekonomi, tidak banyak perubahan fisiologi. Untuk menggambarkan setting futuristik, Rian Johnson menambahkan sepeda motor terbang, penyemprot tanaman masa depan, ponsel tablet transparan nan pipih, serta masyarakat yang dianugerahi kemampuan telekinesis. Sebagai akibat dari tingginya ‘angka kelahiran’ pelaku tindak kriminal, maka muncul semacam institusi yang memekerjakan sejumlah orang yang disebut ‘looper’ yang memiliki fungsi untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Sayangnya, institusi ini pun merupakan milik dari bos kriminal kelas kakap sehingga kehadiran ‘looper’ tidaklah melegakan bagi masyarakat. 

Sang ‘looper’ yang beruntung kebagian sorotan lebih dalam film ketiga bikinan Rian Johnson bertajuk Looper ini adalah Joe Simmons (Joseph Gordon-Levitt). Joe bekerja sebagai ‘looper’ untuk sebuah gembong Mafia di Kansas. Dalam pekerjaan, Joe termasuk seseorang yang berdedikasi. Dia menumpuk ribuan bilah perak, yang diberikan kepadanya sebagai upah, sebagai bekalnya untuk menghabiskan masa tua di Prancis. Tapi namanya juga bekerja di ranah kriminal, tentu saja bahaya akan senantiasa mengintai dan rencana futuristis pun perlu diberi cadangan sebagai langkah untuk mengantisipasi kegagalan yang memiliki peluang besar menanti. Awal dari bencana yang siap memporakporandakan kehidupan Joe dimulai saat rekannya, Seth (Paul Dano), mendadak muncul di apartemennya meminta pertolongan. Joe dihadapkan pada dilema antara memilih untuk menyelamatkan teman atau menyelamatkan harta. Sang bos mengancam, perak milik Joe akan disita jika tidak menyerahkan Seth. Satu informasi yang terekam di ingatan Joe kala menyembunyikan Seth, nasib ‘looper’ tengah terancam. Di masa depan, tahun 2074, muncul seseorang (atau sesuatu) bernama The Rainmaker yang memegang kontrol penuh atas semua organisasi kriminal serta berambisi untuk melenyapkan para ‘looper’. 

Hal ini seakan bukan masalah besar bagi Joe karena tidak berdampak pada kehidupan pribadinya. Setidaknya itu yang bersemayam di pikirannya sebelum segalanya dijungkirbalikkan keesokan harinya. Jam kemunculan target dari masa depan telah berada di tangan. Joe pun sudah siap sedia di lokasi ‘eksekusi’ dengan pelatuk di tangan. Dalam benaknya, hari itu adalah hari biasa seperti sebelum-sebelumnya. Hingga kemudian target yang dinanti ‘mendarat’ di atas karpet plastik. Selama beberapa detik, Joe tercekat. Ternyata, target teranyarnya adalah... dirinya sendiri (Bruce Willis)! Looper memulai kisah dengan tensi yang meninggi. Semakin jauh Anda diajak ke dalam, maka pergerakan grafik tensinya pun turut meningkat. Ini adalah tipe film yang sebaiknya Anda jangan tahu terlalu banyak mengenai seluk beluknya. Dengan informasi serba sedikit yang dibawa ke dalam gedung bioskop, maka misteri yang digulirkan Rian Johnson sedikit demi sedikit akan membuat Anda betah memandangi layar bioskop seraya mencoba untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi kemudian atau apa yang sesungguhnya terjadi. Durasi yang memanjang hingga 118 menit pun tidak lagi menjadi soal. 

Menonton Looper pun menjadi salah satu pengalaman menonton paling mengasyikkan yang saya dapatkan, setidaknya untuk tahun ini. Johnson mampu memadukan thriller, romansa, dan sedikit bumbu komedi menjadi satu kesatuan yang apik. Sekalipun mengusung genre fiksi ilmiah, Johnson pun berusaha sebisa mungkin untuk mengindari istilah-istilah rumit nan njelimet yang biasanya menjadi masalah utama bagi penonton awam untuk bisa menikmati film dari genre sejenis. Pun begitu, Anda tetap diminta untuk berkonsentrasi agar dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang sutradara secara utuh. Johnson sengaja menebar dan membiarkan puzzle berceceran dimana-mana guna Anda susun sendiri. Inilah yang membuat Looper sedap untuk disantap. Bagi yang mengharapkan tontonan serba aksi full tembakan dan ledakan, bersiap kecewa. Peningkatan tensi yang saya maksud dalam paragraf sebelumnya tidaklah merujuk pada aksi, melainkan misteri yang melingkupi film. Sesekali memang terasa memusingkan, namun seringkali Johnson sanggup membawa saya melewati fase deg-degan yang menyenangkan. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mencintai film ini. Looper telah membawa saya ke dalam sebuah perjalanan seru yang penuh dengan hal-hal mengejutkan yang di dalamnya mengandung naskah cerdas berisi, akting menawan para pemain, serta kandungan hiburan dengan takaran yang pas.

Outstanding



October 12, 2012

REVIEW : CITA-CITAKU SETINGGI TANAH


 "Rezeki itu nggak pernah pergi. Dia cuma menunggu waktu yang tepat untuk kembali."

Ada perasaan miris ketika saya bertandang ke salah satu bioskop di Semarang siang kemarin untuk menyaksikan Cita-Citaku Setinggi Tanah. Bagaimana tidak, hanya ada empat penonton yang menemani saya di dalam gedung bioskop menyaksikan film sepanjang 75 menit ini. Padahal saat itu adalah hari pertama film ini dilempar ke pasaran. Apakah promosi kurang gencar sehingga publik belum menyadari keberadaannya atau publik telah benar-benar masa bodoh dengan film Indonesia? Kemana perginya kalian yang selama ini berkoar-koar membutuhkan film buatan anak bangsa yang berkualitas? Seriously, It’s a good movie. Ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan kepedulian kalian. Bahkan, penjualan tiket untuk film ini seluruhnya akan didonasikan untuk anak-anak penderita kanker. Niatan tulus yang seharusnya mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Terlepas dari apakah donasi ini hanya dipergunakan sebagai alat untuk menarik perhatian penonton atau tidak, Cita-Citaku Setinggi Tanah tetaplah sebuah sajian yang sebaiknya tidak Anda lewatkan begitu saja. 

Film perdana buatan Eugene Panji ini tidak mencoba untuk menjadi sebuah film yang ambisius dengan mengapungkan permasalahan-permasalahan pelik nan memusingkan yang pada akhirnya hanya membuat sang pembuat kebingungan dalam mengurai benang yang telah mengusut. Apa yang disoroti di sini sangatlah sederhana, ini adalah ‘everybody’s story’. Saya yakin, Anda pun pernah mengalaminya. Masih ingatkah Anda ketika duduk di bangku sekolah dasar pernah ditanya oleh guru Bahasa Indonesia, “apa cita-citamu?”. Saat mendapat pertanyaan seperti demikian, bagaimana Anda menjawabnya? Jawaban yang umum diterima dari bocah-bocah SD, seperti halnya yang diperlihatkan dalam segmen singkat mengenai “cita-citaku adalah...” di awal dan penutup film ini, tidak jauh-jauh dari profesi seperti dokter, pilot, penegak hukum, artis, pramugari hingga presiden. Semuanya tinggi-tinggi. Saat ada yang memberikan jawaban yang agak nyeleneh, konsekuensi yang diterima adalah cenderung ditertawakan. Lihat saja apa yang terjadi pada Agus (M Syihab Imam Muttaqin). Setelah dia mengemukakan cita-citanya untuk bisa makan di restoran Padang, ledakan tawa dengan nada mengejek pun membahana. Bagi teman-temannya, mimpi Agus dianggap terlalu dangkal. 

Cita-cita yang dikemukakan secara lisan oleh para siswa di dalam kelas diminta oleh sang Guru Bahasa Indonesia untuk dituangkan ke dalam bentuk karangan pada akhir semester. Tugas yang sekilas terlihat remeh temeh ini nyatanya membuat Agus dan ketiga sahabatnya, Jono (Rizqullah Maulana), Puji (Iqbal Zuhda), dan Mey (Dewi Wulandari), kelimpungan. Mereka menanggapinya dengan serius, seolah-olah sedikit kesalahan dalam tulisan dapat memengaruhi kesempatan mereka dalam menggapai cita-cita. Ketika ketiga sahabat Agus asyik menggores kata-kata di atas kertas dengan melayangkan angan-angan, Agus memilih pendekatan lain setelah mendengar nasihat dari seorang tetangga, “cita-cita bukan cuma untuk ditulis saja, tetapi diwujudkan.” Tanpa sepengetahuan keluarga dan teman-temannya, Agus banting tulang kesana kemari untuk menumpuk receh dalam celengan bambunya demi merasakan nikmatnya makanan Padang. Menuntaskan tugas sekolah bukan lagi menjadi tujuan akhirnya, melainkan berubah haluan menjadi bagaimana cara mewujudkan cita-citanya yang hanya setinggi tanah itu. 

Naskah hasil kreasi pemikiran Satriono yang beranjak dari sebuah premise yang sangat sederhana tidak berbelit-belit dalam menyampaikan kisah. Lancar dan mengalir apa adanya. Satriono dan Eugene Panji memasukkan banyak sekali kesederhanaan, kejujuran, dan cinta kasih untuk film ini yang membuat Cita-Citaku Setinggi Tanah menjadi sebuah film yang sangat hangat dan membumi. Pesan moral dan sindiran-sindiran sosial disampaikan secara halus tanpa perlu dijabarkan dalam bentuk dialog beratus-ratus kata namun tetap mengena di hati penonton. Kesederhanaan memang menjadi kunci utama dari film produksi Humanplus Production ini. Tidak hanya dari segi naskah, ditilik dari sisi teknis pun film ini sangatlah sederhana. Bisa jadi, karena keterbatasan biaya. Bagusnya, menyadari bahwa sokongan dari sisi teknis tidaklah memadai, Eugene Panji dan tim memaksimalkan kinerja dari departemen lain yang hasilnya sama sekali tidak mengecewakan. Naskah buatan Satriono yang berbicara lantang berpadu manis dengan akting dari para pemainnya, khususnya para aktor cilik pendatang baru, yang natural serta soundtrack yang ‘easy listening’ dan ditempatkan secara pas. Namun yang benar-benar membuat saya jatuh hati dengan film ini adalah alur cerita dan para tokohnya yang merakyat yang dapat saya jumpai dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin ini adalah kisah tetangga, keponakan, anak, cucu, sepupu, atau malah justru Anda sendiri. Ini bukan sebuah fantasi kehidupan, bukan juga sebuah halusinasi kehidupan, tapi ini sebuah realita kehidupan. Dekat sekali di hati. Maka saya sungguh menyayangkan jika film sebagus, sejujur, dan sehangat Cita-Citaku Setinggi Tanah ditanggapi dingin oleh masyarakat.

Exceeds Expectations



October 8, 2012

REVIEW : PERAHU KERTAS 2


"Hati itu dipilih, bukan memilih. Bertahan atau melepaskan itu tergantung hatimu. Hatimu yang tahu"

Perahu Kertas... Hah... Sesungguhnya, setelah jilid pertama yang membuat saya menguap beberapa kali meski harus diakui cukup manis, hasrat untuk menyaksikan paruh kedua tidak terlalu menggelora sekalipun Chand Parwez Servia, produser Starvision Plus, menjanjikan bahwa cerita Perahu Kertas akan menggemuk di belakang. Itu berarti, seiring dengan bergulirnya cerita, maka konflik yang diapungkan pun kian padat dan mengikat. Telinga saya agaknya sudah kebal mendengar obralan janji-janji manis dari para penggiat sinema yang seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Ramai di dunia maya, melancarkan puja puji setinggi langit, setelah disimak ternyata ya hanya begitu-begitu saja. Apakah pujian yang dilayangkan ini tulus dari lubuk hati yang paling dalam atau karena... faktor pertemanan? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Perahu Kertas 2 ini pun senada. Seusai premiere digelar dengan sukses, nyaris tidak ada yang memberikan kritik. Film menuai pujian dari berbagai pihak. Komentar negatif bukanlah pilihan yang populer malam itu. Saya pribadi skeptis sampai-sampai muncul pertanyaan di pikiran saya ‘benarkah?’. Beberapa teman yang beruntung menyaksikannya lebih awal, memberi penilaian buruk untuk film ini. Dan, saya lebih percaya kepada mereka. Tiga hari berselang, saya pun mempunyai kesempatan yang sama dengan Anda untuk menyaksikannya di layar lebar. Tidak ada ekspektasi sedikit pun. Ditemani dengan segelas minuman bersoda serta berondong jagung yang nikmat namun harganya tidak lagi bersahabat, saya siap untuk diajak mengarungi film sepanjang 100 menit yang ternyata sesuai dengan dugaan saya... kering, tidak bertenaga, dan nyaris tidak mengandung kesenangan di dalamnya. Membosankan. 

Dengan penuh percaya diri, Perahu Kertas 2 berlayar tanpa diawali dengan ringkasan singkat jilid sebelumnya sebagai penyegar ingatan atau mungkin sebagai perkenalan kepada penonton yang belum sempat menyaksikan film pertama. Sebuah pembuka yang cukup menjanjikan sebenarnya. Hanung Bramantyo melanjutkan konflik yang sempat terpotong satu setengah bulan yang lalu. Kugy (Maudy Ayunda) berjumpa kembali dengan Keenan (Adipati Dolken) berkat pernikahan sahabat mereka, Noni (Sylvia Fully R) dan Eko (Fauzan Smith). Sebuah ‘road trip’ untuk mengenang masa lalu pun dihadiahkan oleh Keenan kepada Kugy. Perjalanan yang seharusnya manis ini terpaksa berakhir tragis setelah Kugy menyaksikan dengan mata kepala sendiri Sekolah Alit, tempat pelarian Kugy dulu, dirobohkan dan Pilik yang menjadi sumber inspirasinya dalam menulis dongeng telah berpulang. Menghadapi realitas kehidupan semacam ini membuat semangat Kugy terpecut untuk melanjutkan impiannya sebagai pendongeng. Keenan pun dengan sukarela mengajukan diri sebagai ilustrator. Pertemuan kembali dua sejoli ini turut berimbas kepada kehidupan pribadi Kugy. Prestasi kerjanya menurun drastis. Siska (Sharena), rekan kerjanya yang diam-diam menaruh hati pada Remi (Reza Rahadian), melihat ini sebagai peluang untuk menyingkirkan ‘rivalnya’ tersebut. Sementara itu, hubungan Keenan dan Luhde (Elyzia Mulachela) terombang-ambing dalam ketidakpastian setelah sebuah pertemuan tak terduga Kugy dengan Luhde. 

Apabila pendahulunya gagal membawa Anda ke dalam nuansa yang dramatis dan sentimentil, maka apa yang Anda harapkan dari Perahu Kertas 2? Ini adalah sebuah proyek ambisius yang hanya bisa membahagiakan para penikmat novelnya dan para gadis yang menggilai film drama romantis yang mendayu-dayu, nyaris tidak ada kesempatan untuk penonton awam yang tidak mengenal sumber adaptasinya untuk jatuh cinta kepada Perahu Kertas 2. Saya kurang percaya dengan siapapun yang sesumbar bahwa alasan pemecahan film adalah demi memertahankan bagian-bagian penting dalam novel sehingga esensi cerita tidak luntur. Kenapa tidak mengatakan saja, uang telah berbicara? Jelas sekali ada setumpuk adegan yang jika dihilangkan pun tidak akan memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan cerita. Akibatnya, Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari yang turun tangan sendiri untuk menangani penulisan naskah mau tak mau kudu memelarkan beberapa titik guna menggenapi kuota durasi yang diminta oleh para produser. 

Letupan konflik dan ledakan air mata yang dijanjikan semasa promosi pun tidak lebih dari sekadar isapan jempol. Perahu Kertas 2 bak dilepas ke perairan yang tenang dengan gelombang yang muncul sesekali dan alpa bebatuan yang seharusnya merintangi laju. Dramatika cerita dan emosi para tokoh gagal terbangun dengan baik serta tidak mampu mengikat penonton untuk duduk tenang menikmati para tokoh bermain rasa selama kurang lebih 100 menit. Dari sekian banyak problematika yang menyembul, hanya kisah Luhde yang cukup mampu saya nikmati. Sisanya, saya tidak terlalu ambil pusing. Fase deg-degan yang diharapkan hadir saat hubungan segi rumit antara Kugy, Keenan, Remi, dan Luhde terbongkar, lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan sama sekali. Dewi Lestari memang penulis novel yang jempolan, siapapun mengakuinya. Akan tetapi, untuk urusan mengolah naskah, dia masih perlu belajar banyak. Seandainya penulisan naskah diserahkan kepada penulis naskah kelas wahid, bisa jadi Perahu Kertas 2 akan berkali-kali lipat lebih menggigit dan tidak sedatar ini. Atau... seandainya Perahu Kertas dibiarkan berdiri dalam satu kesatuan tanpa dipaksa untuk dipecah, hasil akhirnya mungkin lebih menarik. Sungguh sangat disayangkan. Pada akhirnya, Perahu Kertas 2 tidak ubahnya sebuah dongeng pengantar tidur. Saya benar-benar membutuhkan bantal dan selimut kala menontonnya.

Poor



October 5, 2012

REVIEW : RUMAH KENTANG


"Mbak Shandy Aulia yang cantik, ketimbang susah-susah cari pekerjaan, kentangnya jangan dibuang. Mending dikumpulin lalu bikin usaha rumah makan kentang, donat kentang, atau jadi juragan kentang juga boleh. Dibuat makan setiap hari pun bisa."

Apakah Anda pernah mendengar sebuah ‘urban legend’ mengenai Rumah Kentang yang lokasinya berada di sebuah pemukiman elit Dharmawangsa, Jakarta Selatan? Konon kabarnya, beberapa orang yang melintas di depan rumah tersebut, khususnya ketika menjelang malam, mencium aroma kentang rebus yang menyerbak keluar dari rumah tersebut serta diiringi dengan suara tangisan dari seorang anak kecil sementara dalam faktanya, tidak ada siapapun di dalam rumah tersebut. Jika kosong tidak berpenghuni, lantas siapa yang tengah merebus kentang? Lalu, suara tangisan tersebut, berasal dari siapa (atau apa)? Keabsahan cerita ini memang belum terbukti terlebih hanya segelintir orang saja yang ‘mujur’ menikmati aroma kentang rebus yang menusuk hidung. Apakah ini benar-benar terjadi atau hanya ulah iseng dari sejumlah pihak? Apapun kebenarannya, yang jelas fenomena ini telah menarik perhatian sineas lokal untuk diangkat sebagai tontonan di layar lebar. 

Adalah Hitmaker Studios yang kemudian memboyong legenda ini untuk diejawantahkan ke dalam pita seluloid dan menunjuk Jose Poernomo untuk duduk di balik kemudi. Di atas kertas, proyek ini nampak potensial dan benar-benar menjanjikan. Menyuguhkan sebuah film horor murni yang berangkat dari fenomena urban tanpa embel-embel komedi konyol yang garing dan sensualitas yang murahan, Rumah Kentang seakan sebuah angin menyejukkan yang telah lama dinanti-nantikan oleh para penikmat horror. Akan tetapi, sayangnya saya harus kembali menegaskan, memberi garis bawah, dan menjadikan bold ‘di atas kertas’. Maka sebaiknya Anda jangan terburu-buru untuk berekspektasi tinggi kepada film ini. Kenyataan yang terjadi di lapangan.... jauh berbeda dengan apa yang tertuang di atas secarik kertas atau berlari-lari di pikiran. Jauh berbeda. Langkah penuh semangat dengan senyum mengembang yang mengiringi saya saat memasuki gedung bioskop berakhir dengan langkah penuh amarah berhiaskan wajah yang teramat sangat kusam dan mulut yang tidak henti-hentinya ngedumel saat keluar dari gedung bioskop. Sekalipun tidak berakhir seperti film buatan Nayato atau KKD (yang entah masih layak disebut film atau tidak), namun Rumah Kentang tetaplah sebuah produk gagal yang meninggalkan luka bagi konsumen. 

Sepeninggal sang ibu, Farah (Shandy Aulia) kembali ke Jakarta setelah sekian tahun menetap di Melbourne untuk menuntut ilmu. Sesampainya di kampung halaman, Farah mendapati fakta mengenaskan seputar keluarganya yang selama ini tidak diketahuinya. Dengan kondisi keuangan yang kian menipis, Farah pun mau tak mau harus menghentikan studinya dan fokus untuk memperbaiki perekonomian keluarga demi menopang hidupnya dan sang adik, Rika (Tasya Kamila), yang menjadi aneh setelah kepergian sang ibunda. Berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh sang ibu, ternyata Farah dan Rika diwarisi sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta Selatan. Kabar yang berhembus menyebutkan, ini adalah rumah kentang. Inilah alasan utama mengapa rumah ini tidak kunjung mendapatkan pemilik baru. Seraya menunggu calon pembeli, Farah dan Rika pun menempati rumah ini untuk sementara. Seperti yang telah Anda duga, mereka tentu saja tidak sendirian disini. Ada makhluk lain yang mengusik ketenangan. Teror dimulai tepat setelah bel pintu berbunyi, Farah mengendap-endang membukakan pintu, dan.... 

Niatan baik untuk memerbaiki kondisi perfilman Indonesia, khususnya dari genre memedi, yang selama beberapa tahun terakhir ‘diperkosa’ oleh para produser serakah tidaklah cukup hanya berlandaskan pada niat belaka. Harus ada penanganan yang serius. Hal itu sama sekali tidak terlihat pada Rumah Kentang yang tidak berbeda jauh dengan para pendahulu, hanya ingin numpang ketenaran dari sebuah fenomena urban demi (lagi-lagi) mengeruk keuntungan sebanyak mungkin. Sejak menit-menit awal, saya sudah mencium aroma kentang busuk yang menyengat. Alih-alih menyajikan ‘kentang rebus’ yang masih fresh, Jose Poernomo justru mentraktir penonton dengan ‘kentang rebus’ basi yang dihangatkan kembali. Sama sekali tidak ada yang baru di sini. Cara yang diterapkan oleh Jose Poernomo untuk membuat penonton terlonjak dari kursi bioskop adalah cara klasik yang entah sudah berapa kali diaplikasikan oleh sineas-sineas lokal, memanfaatkan scoring yang ‘jedang jedeng jedung’ sepanjang film dengan volume maksimal. Pikir mereka, hanya bergantung dengan ini, semua permasalahan telah dituntaskan. Meh. Tidak heran film horor buatan lokal susah untuk menembus pasar internasional. 

Rumah Kentang memang ditunjang oleh sinematografi yang cantik, yang mana bukan sesuatu yang mengejutkan karena telah menjadi semacam ciri khas dari Jose Poernomo. Dan menyedihkannya... sinematografi indah ini adalah satu-satunya yang dapat dibanggakan oleh film ini. Sisanya, ditelantarkan begitu saja bak Farah dan Rika yang ditelantarkan oleh keluarga besar mereka yang menghilang entah kemana dan sedikitpun tidak memiliki rasa belas kasihan. Setelah menit demi menit bergulir, dan hati kecil saya mulai menjerit, sebuah pertanyaan mengemuka. Siapakah yang menulis skrip untuk film ini? Dari hasil mengamati credit title secara seksama serta bertanya kepada seorang teman, muncullah sebuah nama yang terdengar asing di telinga, Riheam Junianto. Bagi saya, beliau adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam meruntuhkan mood saya yang pada awalnya bersinar terang benderang. Usaha Jose Poernomo untuk membangun atmosfir yang mencekam pun sia-sia belaka. Skrip buatan Riheam Junianto membuat saya ingin berteriak sekencang mungkin di dalam gedung bioskop. Rasanya kok seperti sedang menyaksikan film buatan Baginda KKD ya? Kontinuitasnya berantakan, lompat sana lompat sini. Dialog-dialognya pun luar biasa menggelikan. Entah ada berapa banyak dialog satu arah, dialog tidak nyambung atau dialog cerewet penuh penjelasan yang tersebar dalam film ini. Tawa penonton pun kerap kali membahana memenuhi gedung bioskop seolah-olah saya tengah menyaksikan sebuah film komedi. 

Tidak jarang, adegan-adegan yang muncul pun tidak kalah konyolnya. Beberapa yang membekas di ingatan (Sisanya, saya tinggalkan di dalam bilik toilet bioskop) adalah curhat colongan Farah kepada Pegawai PLN (Daus Separo) mengenai kondisi adiknya serta pertanyaan ‘dimana psikiater yang bagus di sini ya?’, Tasya Kamila yang kehadirannya jauh berkali-kali lipat lebih menyeramkan ketimbang hantu Rumah Kentang, atau... saat Rika yang diceritakan sedang pincang dan diharuskan memakai tongkat penyangga mendadak lari-larian keliling komplek bersama Farah dengan penuh gairah. Epik! Memang benar ya, ketika sedang kepepet, seseorang cenderung mampu melakukan apapun termasuk yang mustahil sekalipun. Luar biasa. Ketidaklogisan ini mungkin masih bisa tertutupi andai Jose Poernomo tidak terobsesi untuk menghiasi filmnya dengan gambar-gambar sedap dipandang dan para pemainnya bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk mengambil kelas akting. Karena jujur, selain penampilan singkat Rina Rose dan Iszur Muchtar yang menghibur, para pemain di film ini hanya memperburuk segalanya. 

Shandy Aulia yang sudah malang melintang di industri hiburan lebih dari satu dekade dan ditempa oleh sejumlah film (dan sinetron) senantiasa menghadirkan ekspresi datar sedatar datarnya sehingga dia pun rela tubuhnya dieksploitasi demi mengalihkan perhatian penonton dari aktingnya yang membuat saya migrain. Tasya Kamila pun sama sekali tidak membantu. Dan Anda jangan sekali-kali berani bertanya kepada saya bagaimana akting Ki Kusumo di sini, sungguh... jangan. Saya sama sekali tidak menyangka akan menemukan hal-hal seperti ini di Rumah Kentang yang dikoar-koarkan sebagai obat rindu bagi pecinta film horror murni. Hasil yang didapat usai menyaksikan Rumah Kentang adalah kepala nyut-nyutan, mulut gatal untuk tidak memaki, dan mood yang seketika memburuk. Tidak satu pun efek positif yang terseret keluar. Pada akhirnya, Rumah Kentang tidak lebih dari sebuah film ‘kaget-kagetan’ belaka dengan isian berupa scoring ‘jedang jedung’ yang menjengkelkan, hantu banci tampil, dan kekonyolan demi kekonyolan. Naskah dan akting pemain yang buruk pun memaksa Rumah Kentang untuk banting setir dari sebuah film horror menjadi komedi. Memang, tidak berakhir hingga ke titik ‘hina dina’, namun ini tetaplah sebuah produk gagal yang telah melukai hati konsumen. Mas Jose Poernomo, kenapa akhir-akhir ini Kau selalu membuatku kecewa? 

Poor



October 4, 2012

REVIEW : TAKEN 2


"This is not a game. I will finish this thing. You'll just have to die." - Bryan 

Tidak ada yang menduga jika Taken yang dirilis empat tahun silam sanggup menggurita di tangga box office dan mengalirkan sekitar $200 juta ke rekening Luc Besson. Liam Neeson sebagai bintang utama pun turut kebagian untung dengan namanya mencuat sebagai ikon baru dari film aksi. Kesuksesan semacam ini sangat perlu untuk dirayakan. Caranya, Anda semua tentu sudah hafal. Dinilai sebagai sebuah produk yang menguntungkan, maka Taken wajib untuk diperdagangkan kembali dalam bentuk... sekuel. Saya menyukai jilid pertamanya. Bagi saya, Taken adalah sebuah film thriller yang menegangkan dengan balutan aksi yang seru dan jalinan cerita yang mengundang rasa ingin tahu. Saat film berakhir dan lampu bioskop kembali dihidupkan, saya mengira petualangan Bryan Mills (Liam Neeson) telah berakhir dan dia menjalani hidup normal. Akan tetapi, uang telah berkata lain. Nahkoda di jilid awal, Pierre Morel, disingkirkan begitu saja dan digantikan oleh Olivier Megaton yang mendadak menjadi anak emas Besson setelah menggarap Transporter 3. Pergantian sutradara ini nyatanya sangat berpengaruh kepada hasil akhir film secara keseluruhan. Taken 2, walaupun tidak sampai berakhir sebagai film yang menjengkelkan, adalah sebuah penurunan yang drastis dari film sebelumnya. Terlalu banyak kekonyolan sehingga sulit untuk menanggapinya secara serius. 

Setahun setelah Kim (Maggie Grace) berhasil dibebaskan oleh Bryan Mills dari cengkraman para pria-pria bengis yang memperdagangkan gadis-gadis cantik di Paris, kehidupan Bryan seharusnya bisa kembali normal... seharusnya. Tapi karena ini adalah sebuah lanjutan yang membutuhkan lebih banyak konflik, maka Besson dengan rekannya di departemen naskah, Robert Mark Kamen, merumitkan segalanya. Hal ini memiliki potensi untuk menggugah emosi penonton dan merekatkan hubungan penonton dengan para tokoh utama. Hanya saja, waktu selama 30 menit yang dipergunakan untuk membangun cerita, disia-siakan begitu saja. Selain subplot mengenai kekasih Kim, Jamie (Luke Grimes), yang mengusik ketenangan Bryan serta kegagalan Kim dalam ujian mengemudi, tidak ada yang digali lebih mendalam oleh duo penulis. Padahal saya menantikan ada sedikit penuturan kilas balik mengenai usaha Kim mengatasi rasa trauma yang menghinggapi serta kelanjutan hubungan Bryan dengan sang mantan istri, Lenore (Famke Janssen). Dalam waktu yang terbatas, kita melihat bahwa kehidupan rumah tangga Lenore dan Stuart tengah memburuk. Tidak ada penjelasan yang memuaskan mengenai hal ini seakan-akan penulis ingin menghilangkan Stuart begitu saja demi memberi jalan bagi Bryan untuk rujuk dengan Lenore. 

Di film kedua ini kita tidak lagi melihat pemandangan sudut-sudut kota Paris karena Olivier Megaton memboyong kita ke Istanbul, Turki, yang cantik. Menyusul dibatalkannya rencana berlibur ke China karena pertengkaran hebat antara Stuart dan Lenore, maka Lenore dan Kim pun memutuskan untuk menyusul Bryan Mills yang tengah bertugas di Turki. Sembari menjalankan tugas negara, Bryan menghabiskan waktu senggangnya untuk memperbaiki hubungannya dengan Lenore. Cinta lama pun bersemi kembali. Tapi, tentu saja, liburan ini tidak akan berjalan dengan mulus dan menyenangkan karena ini adalah... Taken 2 (Diculik 2). Ayah dari salah satu ‘villain’ di film sebelumnya yang dihabisi oleh Bryan, Murad Hoxha (Rade Šerbedžija), bersama dengan kroni-kroninya menuntut balas. Bryan dan Lenore diculik kala tengah berjalan-jalan menikmati kebersamaan di tengah hiruk pikuk kota Istanbul. Sementara korban penculikan dari jilid awal, Kim, berhasil lolos. Oleh Besson, Kim ditempatkan sebagai ‘sidekick’ dari Bryan. 

Di bawah penanganan Olivier Megaton, Taken 2 lebih terasa seperti kelanjutan dari Transporter 3 ketimbang sekuel dari Taken. Lihat saja bagaimana Megaton banyak memanfaatkan helishot yang telah dia aplikasikan sebelumnya melalui film yang dibintangi oleh Jason Statham tersebut. Atau, bagaimana dia menampilkan car chase scene di gang-gang sempit pemukiman warga. Nuansa Transporter sangat terasa. Tidak ada yang salah dengan hal ini, sah-sah saja. Selama masih memberikan hiburan bagi penonton, mengapa tidak? Saya sendiri cukup menikmatinya. Namun yang saya sungguh sayangkan adalah naskah buatan Kamen dan Besson yang sangat dangkal dan seakan hanya mengulang atas apa yang terjadi di film sebelumnya. Ketegangan tidak lagi terasa di sini. Alurnya pun cenderung mudah ditebak. Sama sekali tidak ada greget. Besson melupakan naskah demi menghadirkan lebih banyak adegan aksi dan tone yang lebih cerah. Sesekali berhasil, namun seringkali gagal. Yang membuat Taken 2 sulit untuk saya nikmati secara menyeluruh adalah para ‘villain’ yang luar biasa tolol dan lemah. 

Baiklah, jika saya melihatnya dari sisi positif, mungkin ini karena mereka melawan Bryan yang digambarkan sebagai sosok yang superior, tangguh, dan mematikan. Akan tetapi, meminjam dari perkataan anak muda zaman sekarang, “nggak gitu-gitu juga kaleeee....”. Tidak heran jika 21 Cineplex sempat melabeli film ini dengan ‘Semua Umur’ di website mereka. Lha wong para tokoh antagonis di sini luar biasa menggelikan layaknya para penjahat di film untuk konsumsi keluarga. Masa mereka juga tidak berkutik menghadapi Kim yang notabene tidak dibekali kemampuan bertarung dan mengemudi yang mumpuni? Please! Tidak ada satupun dari belasan (atau bahkan puluhan) orang ini yang terlihat berbahaya dan menjengkelkan. Adegan klimaks pun berakhir dengan sangat mudah karena... Ah, sudahlah. Saya curiga, para 'villain' ini belum menonton Taken dan asal melabrak Bryan saja tanpa persiapan yang matang. Grrrr... Padahal Taken 2 berpotensi menjadi suguhan hiburan yang menyenangkan. Car chase scene-nya lumayan, dan Maggie Grace tampil lebih menggoda ketimbang sebelumnya (suit... suit...). Sayangnya, naskah yang kekurangan energi dan para ‘villain’ yang lebih sering mengundang tawa ketimbang bikin gemes, merusak semuanya. Taken memang seharusnya tidak perlu dilanjutkan.

Acceptable



October 3, 2012

REVIEW : A SEPARATION


"What is wrong is wrong, no matter who said it or where it's written." - Nader 

Sungguh disayangkan, pihak Cinema 21 tergolong telat memasukkan A Separation ke bioskop-bioskop Indonesia. Andaikata film dari Iran ini menyambangi penonton 6 bulan lalu setelah menggondol piala Oscar untuk kategori ‘Best Foreign Language Film’, bisa jadi gegap gempitanya akan sangat terasa. Kala itu, jejaring sosial ramai membicarakan film ini. Saya dengan sangat terpaksa menyaksikan film besutan Asghar Farhadi ini melalui layar laptop lantaran pesimis A Separation akan menyambangi Indonesia. Jika Anda membaca postingan saya yang bertajuk 20 Film Terbaik 2011 Versi Cinetariz, tentu mengetahui bahwa film ini nangkring di urutan pertama. Ketika beberapa hari lalu diumumkan bahwa A Separation naik tayang, saya pun rela menempuh perjalanan darat selama berjam-jam demi merasakan kembali pengalaman sinematik yang memuaskan selama 2 jam di layar lebar. Anda mungkin terheran-heran, “kok sampai segitunya demi sebuah film?”, tapi percayalah, film ini sangat layak untuk ditonton lebih dari sekali. Dan jika Anda menyebut diri Anda sebagai ‘movie buff’, ‘movie freak’, atau apapun itu sebutannya, namun masih belum menyaksikan A Separation hingga detik ini, wah... Apa saja yang telah Anda lakukan hingga melewatkan film seapik ini? Suatu kerugian yang sangat besar. 

Yang menjadi akar dari segala konflik dalam A Separation adalah perceraian dari Nader (Peyman Moaadi) dan Simin (Leila Hatami). Farhadi langsung membuka film kelimanya ini dengan tensi yang meninggi lewat perdebatan sengit antara Simin, Nader, dan suara hakim yang diwakili kamera subjektif seolah-olah penonton adalah si hakim, atau tengah duduk di samping si hakim. Kedua tokoh utama memberikan tatapan tajam. Simin melayangkan permohonan cerai lantaran Nader ‘emoh’ diajak meninggalkan Iran sementara Simin ingin putri semata wayang mereka, Termeh (Sarina Farhadi), tinggal dalam lingkungan yang sehat. Nader beralasan tidak ingin meninggalkan sang ayah yang mengidap penyakit Alzheimer. Hakim pun menolak untuk mengabulkan permintaan Simin. Perpecahan pun terjadi, Simin memboyong barang-barangnya ke rumah orang tuanya sedangkan Nader tinggal bertiga bersama Termeh dan sang ayah. Dengan kepergian istri, maka Nader pun butuh seseorang untuk membantunya mengasuh sang ayah. Atas saran Simin, Nader memekerjakan Razieh (Sareh Bayat). Belum genap tiga hari bekerja, Razieh telah membuat masalah. Razieh pergi berobat ke dokter dan meninggalkan ayah Nader di kamarnya dalam keadaan terikat. Nader mengetahui hal ini, dia berang. Kemarahannya kian tak terbendung saat mengetahui uangnya di laci kamar turut raib. 

Asghar Farhadi membuktikan melalui A Separation, tidak perlu mengangkat tema yang besar, ambisius, dan berbelit-belit untuk menghasilkan sebuah film yang mampu meninggalkan kesan mendalam di hati penonton. Isu yang dikupas oleh Farhadi di sini tidak bergerak jauh dari permasalahan umum yang dihadapi oleh masyarakat Teheran yang mungkin saja terjadi pula di belahan dunia lain. Dengan gambaran riil semacam ini, penonton jadi lebih mudah terkoneksi dengan apa yang hendak dipaparkan oleh Farhadi. Persoalan utama dari belasan lapis persoalan yang disoroti melalui A Separation berakar kepada keegoisan manusia. Bagaimana sebuah perceraian ternyata memberi dampak yang cukup signifikan ke dalam berbagai lini kehidupan sebuah keluarga, atau dalam hal ini dua keluarga. Termeh bukan menjadi satu-satunya korban dari perceraian Simin dan Nader. Perceraian seakan menjadi kunci pembuka dari sebuah pintu yang menyimpan setumpuk problematika kehidupan. Simin, Nader, dan Termeh bak sudah jatuh masih tertimpa tangga pula. Berbagai cobaan hidup datang silih berganti tak henti-hentinya paska Simin memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. Apakah ini semacam hadiah dari Tuhan untuk makhluk-Nya yang melakukan perbuatan yang dibenci-Nya? 

Naskah hasil racikan Farhadi luar biasa rapat. Penonton dibiarkan ngos-ngosan mengikuti alur cerita yang membentang sepanjang 123 menit tanpa dibiarkan barang sedetik pun untuk menghela nafas. Melelahkan memang, tapi mengasyikkan. Terlebih, penonton dituntut untuk berpartisipasi selama film berlangsung. Farhadi bukan tipe sutradara yang memberikan jawaban kepada penonton atas setiap masalah yang dihadapi oleh setiap tokohnya. Kita diminta untuk memecahkannya sendiri. Layaknya sebuah persidangan, penonton berada dalam posisi hakim atau juri. Nader dan Razieh adalah pengacara pembela dan penuntut, untuk diri mereka sendiri. Simin, Termeh, serta Hodjat (Shahab Hosseini), suami Razieh yang temperamen, sebagai saksi. Setiap tokoh berada dalam posisi abu-abu, Farhadi tidak membela salah satu dari mereka, dan menyerahkan sepenuhnya kepada kita untuk menentukan, siapakah yang bersalah? 

Ketika konflik antara Nader dan Razieh pertama kali mencuat, saya cukup yakin Razieh patut disalahkan. Dia teledor dalam menunaikan kewajibannya sebagai perawat. Namun seiring berjalannya film, terutama setelah mengetahui bahwa Razieh tengah hamil, peliknya kehidupan rumah tangganya dengan Hodjat, dan dia adalah seorang yang relijius, maka saya tidak tahu lagi kepada siapa saya harus berpihak. Keragu-raguan saya hadir bersamaan dengan keragu-raguan yang muncul dari setiap tokoh. Apakah saya harus menyalahkan Hodjat dan Simin yang secara tidak langsung memiliki andil besar dari semua permasalahan ini? Bukti demi bukti bermunculan melalui percakapan yang intens antara para tokoh. Penonton kudu konsentrasi demi memeroleh jawaban yang diinginkan. Pada tahapan ini, saya pun harus mengakui kehebatan seorang Asghar Farhadi. Bukan sesuatu yang mengherankan juri Oscar memberi nominasi ‘Best Original Screenplay’ untuk film ini. Bayangkan, hanya dengan bermodalkan konflik yang boleh dibilang klise dan dialog yang ceriwis, A Separation bisa membuat saya duduk manis dan tegang sepanjang film. Fuh, sungguh brilian.

Outstanding



Mobile Edition
By Blogger Touch