REVIEW : THE PLATFORM (EL HOYO)

by - 9:15 PM


“There are 3 kinds of people; the ones above, the ones below, and the ones who fall.”

Saat Covid-19 dinyatakan secara resmi sebagai wabah oleh WHO (World Health Organization), masyarakat di berbagai penjuru kota dan negara seketika tumplek blek ke apotek maupun pasar swalayan guna memborong kebutuhan sehari-hari yang sifatnya mendesak. Didorong oleh kepanikan seolah tak ada lagi hari esok, masker pun mendadak menjadi barang langka begitu juga dengan hand sanitizer serta tisu toilet. Sulit sekali mendapatkannya dan jikalau ada, harganya bisa membumbung tinggi melampaui batas kewajaran. Saya pun hanya bisa berpasrah seraya geleng-geleng kepala menyaksikan betapa keserakahan dan keegoisan telah menghinggapi manusia-manusia ini. Di kala situasi telah memasuki fase genting, mereka justru memilih untuk menyelamatkan diri sendiri ketimbang bersikap solider kepada sesama dan mengulurkan tangan atas nama kemanusiaan. Ya, beberapa orang memang akan menunjukkan rupa sesungguhnya saat sedang terdesak, putus asa, serta ketakutan. Mengerikan, bukan? Oleh Galder Gaztelu-Urrutia, sisi kelam manusia yang mencuat kala kepepet ini ditranslasikan secara ciamik ke dalam medium audio visual melalui film bertajuk El hoyo atau The Platform dalam bahasa Inggris. Menginjakkan kaki di genre horor-fiksi ilmiah, film mencoba untuk memberikan visualisasi atas satu premis yang tak saja menggelitik tetapi juga menarik perhatian. Premis tersebut berbunyi, “bagaimana jika ada sebuah penjara yang menyediakan makanan-makanan lezat sesuai dengan jumlah penghuni? Akankah mereka bersedia untuk berbagi agar kebutuhan yang lain turut tercukupi, atau keserakahan akan mengambil alih kendali?”

Guna menjalankan narasi dalam The Platform, kita dipertemukan dengan seorang pria bernama Goreng (Ivan Massague) yang terbangun di sebuah ruangan berbentuk sel penjara. Tidak ada apapun di sana kecuali ranjang, wastafel, angka bertuliskan “48” yang menandakan lantai dimana penghuni berada, lubang menganga di tengah ruangan yang sangat dalam, serta seorang “teman sekamar” bernama Trimagasi (Zorion Eguileor). Dari beberapa penjabaran singkat Trimagasi, Goreng beserta penonton mendapatkan sekelumit informasi krusial mengenai cara kerja penjara berwujud satu menara besar ini seperti: 1) akan ada mimbar yang turun melewati lubang guna memberikan makanan kepada para penghuni sesuai dengan urutan lantai, 2) tidak boleh menyimpan makanan kecuali bersedia mati kepanasan atau kedinginan, dan 3) para penghuni akan menempati lantai berbeda setiap bulan yang ditentukan secara acak. Akibat aturan ketiga inilah, para napi memilih untuk mengenyahkan rasa kemanusiaan tatkala mereka menempati lantai-lantai atas. Mereka melahap makanan sebanyak mungkin lantaran tak selamanya memperoleh keistimewaan ini sehingga penghuni di lantai bawah acapkali hanya memperoleh piring kosong. Bahkan tulang belulang pun tak pernah tampak (!). Mendengar penjelasan Trimagasi, Goreng yang memasuki penjara ini secara sukarela alih-alih karena kedapatan melanggar hukum pun terusik hati nuraninya. Dia ingin mengalakkan perubahan demi menepis segala penderitaan di tempat mengerikan tersebut. Untuk sesaat, idealismenya memang berkobar-kobar bak api. Tapi saat protagonis kita ini terbangun di lantai-lantai yang tak pernah dibayangkannya, dia pun mulai mempertanyakan kembali idealismenya.


Sedari menit pembuka, The Platform telah mengondisikan dirinya untuk menambat erat-erat atensi penonton. Entah itu melalui kinerja tim elemen teknis (mencakup penata artistik, efek khusus, serta sinematografer) dalam mengkreasi sel bertingkat yang menguarkan kesan klaustrofobia, performa jajaran pemainnya dengan ikatan benci-rindu yang memunculkan simpati sekaligus kecurigaan, naskah berisikan dialog-dialog menggelitik yang mengusik pemikiran, maupun pengarahan Galder Gaztelu-Urrutia yang lihai dalam menjaga ritme pengisahan sehingga film yang mulanya diniatkan sebagai drama panggung ini tak pernah memiliki momen menjemukan. Seperti halnya Goreng, penonton tiba di tempat terkutuk ini dengan satu pertanyaan, “apa yang sebenarnya ada di sini?,” yang secara cepat nan jenaka dijlentrehkan oleh Zorion Eguileor yang bermain ngeri-ngeri sedap. Melalui karakter yang dimainkannya dan reaksi emosional yang dimunculkan oleh Ivan Massague, saya seketika menyadari bahwa The Platform tak ubahnya dua film kece rilisan tahun lalu, Parasite dan Knives Out, yang berniat untuk melontarkan komentar terkait kesenjangan, kekuasaan, sampai kemanusiaan. Hanya saja, pendekatan yang ditempuh oleh si pembuat film jauh lebih ekstrim yang mana kita disuguhi pertarungan kelas yang berdarah-darah secara harfiah dan alegori yang dimanfaatkan untuk menggambarkan “strata sosial” pun terbilang unik. Dalam bentuk sel bertingkat dimana penghuninya tidak pernah bisa menerka dimana mereka akan berada pada bulan depan. Jika beruntung, mereka akan menempati sel atas yang memperoleh jaminan makanan melimpah. Sementara jika mereka sedang apes, mereka akan berakhir di sel bawah yang tak memperoleh apapun. Persis seperti roda kehidupan yang digerakkan oleh kapitalisme.

Ditengah jalinan pengisahan yang membuat kita berdebar-debar, lalu penasaran, kemudian agak memalingkan muka akibat kebrutalan tak main-main yang ditampakkannya – well, sebaiknya kamu tidak menontonnya sambil ngemil – The Platform tak lupa mempekerjakan otak kita untuk memikirkan rentetan isu yang dihamparkannya. Tentang bagaimana “kelas atas” mengeruk keuntungan secara membabi buta, tentang bagaimana “kelas bawah” saling bertarung untuk memperoleh kenyamanan bagi diri mereka masing-masing, dan tentang bagaimana “kelas atas” mendayagunakan keistimewaan yang dipunyainya. Selama durasi mengalun, penonton melihat Goreng terus mempertahankan idealisme beserta integritasnya sekalipun kita perlahan-lahan mengetahui bahwa perubahan yang diharapkannya tidak akan pernah bisa terwujud secara spontan. Kelaparan, kemarahan, serta keputusasaan telah mendorong para napi untuk mengedepankan prinsip survival of the fittest hanya demi bisa melihat hari esok. Tak ayal, hamba pun bertanya-tanya, apakah perjuangan si protagonis memang selayak itu untuk diteruskan? Karena saya melihat, tempat dengan nama resmi “Pusat Manajemen Mandiri Vertikal” ini telah menghempas segala rasa kemanusiaan dan hanya menyisakan keserakahan beserta keegoisan semata di setiap lantai. Saat kita mengira para penghuni di strata atas yang semula sempat berada di strata bawah akan memiliki simpati lantaran pernah merasakan kenelangsaannya, kita kembali diingatkan pada konsep dari si pemilik sel. Peralihan posisi yang tak pernah bisa diduga justru menekan sisi bajik manusia dan melahirkan pemikiran, “jika kemewahan ini hanya bisa diperoleh sekarang, mengapa disia-siakan begitu saja?,” karena pada dasarnya mereka hanya ingin bertahan hidup. Kejam, tapi bisa dimafhumi mengingat keadaannya. Bahkan, dewasa ini kita jamak pula menjumpainya di lingkungan sekitar dengan istilah bermakna peyorasi, orang kaya baru. Lagipula, apakah ada jaminan kita benar-benar bersedia untuk bertindak seperti Goreng apabila berada di posisinya? Lebih jauh lagi, apa kita akan tetap bersikap solider apabila ditempatkan di lantai bawah dimana makanan tak dijumpai?

The Platform memang lebih tertarik untuk mengajak penontonnya berpikir, merenung, lalu kemudian mendiskusikan tentang kemanusiaan ditengah adanya strata sosial yang dibentuk oleh kapitalisme ketimbang mengekspansi world building yang dibangunnya. Itulah mengapa, si pembuat film tak pernah berminat untuk mengulik lebih jauh mengenai beberapa misteri dan tak pernah tertarik pula untuk menghadirkan jawaban-jawaban pasti atas sederet pertanyaan yang terus bermunculan. Penonton diminta untuk membentuk imajinasi, teori maupun interpretasinya sendiri yang saya yakini akan memecah belah pendapat mengenai The Platform. Saya pribadi tidak berkeberatan dengan pilihan kontroversial tersebut terlebih topik pembicaraan yang diajukannya teramat menggugah selera. Tapi bagi penonton yang semata-mata mendamba ingin memperoleh sajian hiburan menegangkan yang didalamnya penuh dengan kelokan-kelokan penceritaan yang mengejutkan, maka film ini jelas menantang dan tidak mudah untuk dikonsumsi. Sekarang pilihannya ada di tanganmu, apakah kamu siap untuk menerima tantangan yang disodorkan oleh The Platform atau tidak? Jangan bilang saya tidak pernah memperingatkanmu, ya.

Outstanding (4/5)


You May Also Like

10 Comments

  1. sengaja baca review setelah menonton nya untuk menghindari spoler. Dan over all saya suka ceritanya, santir sosial dgn bungkusan thriller horor dgn premis yg menarik. Penuh metafora yg harus penonton pikir sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan tipe film yang cocok untuk semua orang sih, tapi kalau demen dengan tontonan berisi kritik sosial dan metafora sih kemungkinan besar akan suka :)

      Delete
  2. Semua penyelasan nya tak dijabar kan secara langsung dan itu ku suka karena membuat penonton ikut terlibat pada cerita. Dan beberapa bisa saya tanggap meski ending nya masih kurang paham. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, endingnya gak paham, hahahaa..
      kenapa harus anak kecil itu jadi penanda?
      apa karena dia satu2nya yg berada di lantai 333?
      apa karena dia anak yg terhilang?
      entahlah..

      Delete
    2. Kalau dari interpretasiku, anak kecil itu dikirim karena dua sebab. Pertama, untuk menunjukkan bahwa sistem yang dibuat oleh pihak Administrator tidaklah sempurna. Ingat kan dengan dialog Goreng dengan Imougiri yang bilang bahwa nggak mungkin ada bocah di tempat ini karena penjagaannya yang sangat ketat? Nah, pesan ini semacam wake-up call agar petinggi meninjau ulang sistem mereka.

      Kedua, pesan kemanusiaan. Intinya kurang lebih sama dengan panna cotta, tapi ada penegasan. Dibalik kebuasan dan keputusasaan para penghuni sel, mereka tetap tidak menyentuh seorang bocah yang bisa saja dihabisi karena dia tidak semestinya berada di sini.

      Delete
    3. ohh begitu ya,, jadi makin paham. Nggak nyakah film nya penuh kritik sosial gini ya 🤗

      Delete
  3. Thanks ka, materinya sangat bermanfaat sekali buat aku. Aku suka banget ^^ Sekarang, Cara Membuat Akun Togel sangat mudah. Tak perlu banyak uang, tak perlu banyak tenaga.

    ReplyDelete
  4. Reviewnya keren bro..
    Awalnya nggak berfikir sejauh itu.. Tp interpretasi reviewer bikin kita lebih membuka mata dr ceritanya..
    Mantap.. Semangat buay review film lain bro..

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch