January 31, 2011

REVIEW : THE SOCIAL NETWORK


Film tentang Facebook meraih banyak piala penghargaan ? Apa para juri penghargaan film di luar sana sudah mulai kehilangan akal sehatnya ? Jika kalian berpikiran seperti itu, alangkah baiknya cicipi dulu The Social Network sebelum menghakiminya. The Social Network berangkat dari buku non-fiksi karangan Ben Mezrich yang laku keras, The Accidental Billionaires, dan memang dalam pembuatan film ini tak ada satupun orang dari Facebook yang bersedia terlibat, termasuk Eduardo Saverin yang menjadi narasumber di buku Mezrich. Sempat mendapat tentangan dari Mark Zuckerberg, sang pendiri Facebook, namun pada akhirnya proyek ini terus berjalan meski halang rintangan menghadang *halah*. David Fincher yang ditunjuk sebagai sutradara akhirnya keluar dari 'zona gelapnya' dan mencoba untuk mengarahkan lagi film drama pasca kesuksesan The Curious Case of Benjamin Button. Sekali ini tidak mencoba merekrut bintang Hollywood papan atas, melainkan para aktor muda yang masih segar dengan kualitas akting yang mumpuni. Aaron Sorkin yang angkat nama berkat The West Wing yang sukses secara kualitas dan kuantitas dipilih untuk menuangkan tulisan Mezrich ke dalam bentuk naskah.

Jesse Eisenberg adalah Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard yang jenius dalam bidang komputer namun memiliki sifat yang brengsek menurut kekasihnya, Erica Albright (Rooney Mara). Karena tidak tahan lagi dengan sifat Zuckerberg itulah, Erica kemudian mencampakkannya. Kecewa dengan Erica, dia menuangkan kekesalannya ke dalam postingan di blog serta menciptakan sebuah web yang membandingkan para gadis cantik di Harvard. Rupanya hal ini malah justru membuat Erica menjauh, bahkan para gadis yang menjadi objek Zuckerberg pun ikut membencinya. Pihak Harvard sempat turun tangan karena Zuckerberg sempat mengacaukan jaringan internet di kampus, namun masalah ini tidak dibiarkan berlarut - larut. Kemudian kita dikenalkan pada sosok Eduardo Saverin (Andrew Garfield), seorang jenius Algoritma yang merupakan satu - satunya sahabat dari Zuckerberg. Bisa dikatakan dia memiliki andil yang sangat besar dalam proses terciptanya Facebook, sayangnya Zuckerberg malah justru 'mendepak' sahabatnya sendiri demi keuntungan pribadi. Facebook sendiri awalnya merupakan proyek dari Cameron dan Tyler Winklevoss (Armie Hammer), kembar identik atlit dayung di Harvard, beserta partner bisnis mereka, Divya Narendra (Max Minghella), setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh Zuckerberg. Mereka memiliki konsepnya, hanya tinggal butuh mencari seseorang jenius komputer yang mampu mengembangkannya. Sampai di titik ini, Zuckerberg mulai mengkhianati partnernya dan diam - diam mengembangkannya sendiri bersama Eduardo. Segalanya mulai menjadi rumit tatkala pendiri Napster, Sean Parker (Justin Timberlake), mulai turu campur dan dari sinilah awal retaknya hubungan harmonis antara Zuckerberg dengan Eduardo.

Sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pengalaman menonton yang menyenangkan tatkala menyaksikan The Social Network. Ini adalah sebuah film yang penggarapannya luar biasa bagus dan tertata dengan amat baik. David Fincher memang belum pernah menghasilkan film yang dibawah standar, namun apa yang dia tunjukkan dalam The Social Network adalah suatu kegemilangan. Cara dia mengarahkan pemain, editing hingga sinematografi, semuanya ditata dengan apik, hampir tanpa cela. Bahkan dia berhasil menempatkan opening scene The Social Network sebagai salah satu opening scene terbaik yang pernah ada. Sungguh jenius. Sulit untuk melupakan adu mulut nan memusingkan antara Erica dengan Mark yang dipenuhi dialog cepat nan cerdas. Ya, dialog hasil racikan Aaron Sorkin adalah alasan utama mengapa saya begitu mencintai The Social Network. Cepat, tajam, menggelitik, menyentuh sekaligus menohok, mengingatkan saya akan serial favorit saya, Gilmore Girls. Kelemahannya, penonton dituntut untuk berkonsentrasi tinggi disini jika tidak ingin kelewatan apa yang diucapkan oleh para karakter.

Sinematografi, editing dan music score berpadu dengan cantik disini, ketiganya saling melengkapi satu sama lain. Fincher berhasil menghadirkan shot - shot cantik yang tak terduga didukung dengan editing yang cepat nan menakjubkan, menghasilkan beberapa adegan yang menakjubkan. Bagi sebagian penonton mungkin menganggap adegan lomba dayung Winklevoss di Inggris terkesan tidak penting, namun coba cermati lebih baik, Fincher memiliki maksud tersendiri menyodorkan adegan ini. Saya rasa, di adegan inilah para juri penghargaan terpesona kepada The Social Network. Terkesan simple dan tidak penting, namun menyiratkan arti yang dalam serta menunjukkan bagaimana sinematografi, editing dan musik bisa disatukan dengan manis. Seluruh musik gubahan Trent Reznor dan Atticus Ross memang sangat brilian, terutama track 'In the Hall of the Mountain King' yang merupakan cover dari musik klasik. Coba dengarkan saja keseluruhan albumnya, sungguh indah, elegan, megah dan membius.

Jesse Eisenberg adalah nyawa dari film ini. Entah siapa lagi yang cocok memerankan Mark Zuckerberg selain dia, penampilan yang sangat brilian. Setelah sebelumnya berakting secara lumayan saja, Eisenberg menunjukkan kemajuan yang sangat pesat di The Social Network. Dia sukses membuat penonton gemas, simpati, balik sebal, kontra hingga pro kepada Zuckerberg. Berbagai sisi karakter dari Zuckerberg ditunjukkannya dengan meyakinkan hingga pada akhirnya kita susah memutuskan untuk bersimpati atau malah membenci Zuckerberg, manusiawi sekali. Andrew Garfield tak kalah bagusnya sebagai Eduardo Saverin. Sosok sahabat sejati yang dikhianati dimainkan dengan pas oleh Garfield, bahkan ada poin plus karena disini aksen Inggris Garfield yang kental lenyap dan digantikan oleh aksen Latin. Salut. Para pemain pendukung juga rata - rata bermain bagus, termasuk Rooney Mara, Armie Hammer, Brenda Song hingga Max Minghella. Justin Timberlake ada peningkatan, namun entah mengapa agak terkesan over acting di beberapa adegan.

Sulit rasanya untuk tidak menyukai The Social Network. Bagi saya, ini bukan hanya salah satu film terbaik tahun lalu, namun juga dalam satu dekade terakhir. Kapan lagi bisa menemukan sebuah film yang memiliki naskah yang kuat, akting yang menakjubkan hingga sisi teknis yang memukau ? Film yang sangat heart-warming, agak sulit bagi saya untuk menahan emosi seusai menonton The Social Network. Terdengar sangat berlebihan, ya ? Tapi itulah kenyataannya. Tidak salah rasanya jika kemudian berbagai penghargaan mampir. David Fincher menunjukkan kepada dunia bahwa dia tidak hanya ahli dalam mengolah film thriller, tetapi juga drama. The Curious Case of Benjamin Button dan The Social Network adalah buktinya. Jika kalian mengaku sebagai facebookers dan mencari tontonan yang bermutu serta berkelas, maka The Social Network adalah jawabannya. Menakjubkan.

Outstanding

Trailer :



1 comment:

  1. akhirnya kelar juga reviewnya *jewer tariz

    sebenrnya awal nonton rada pesemis, soalnya banyak yg menyangsikan. tapi ternyata hasilnya jauh diatas expectasiku. keren dah.

    masih ada yg bikin aku penasaran, mark ma wardo masih temenan gak ya ampe sekarang. (wardo masih punya saham di facebook sampe sekarang)

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch