September 24, 2011

REVIEW : CAPTAIN AMERICA THE FIRST AVENGER


"You don't win wars by being nice." - Col. Chester Phillips

Menikmati Captain America: The First Avenger baiknya menggunakan pendekatan dan cara tersendiri. Dari persperktif cerita, Anda harus paham dahulu bahwa Captain America bisa dikatakan tokoh penyemangat di masa perang. Mengambil setting Perang Dunia ke II, jangan bayangkan Engkong Stan Lee menggambarkan Captain America seheroik Superman atau 'semanusiawi' Tony Stark karena Joe Johnston menurut saya mengangkat cerita Steve Rogers (Chris Evans) dengan mempertahankan cita rasa komik hasil dari menerjemahkan karya Stan Lee. Chris Evans yang kita kenal sebagai si “panas” The Torch dalam Fantastic Four disulap menjadi orang yang akan ditolak resimen manapun kala dia mendaftar wajib militer karena dianggap terlalu lemah. Steve Rogers bisa jadi bahan tertawaan bagi penonton di awal cerita karena penampilan fisiknya yang merupakan hasil rekayasa CGI, namun berkat bantuan dari tampilan 3D yang lumayan apik sanggup membantu tampilan fisik Steve Rogers menjadi lebih nyata. Saya sedikit membayangkan jika dalam versi DVD 2D, mungkin rekayasa CGI ini sedikit terlihat aneh karena proporsi dan sebagainya.

Joe Johnston mengusung tema moral melalui tokoh Captain America. Sifat Steve Rogers yang membuat dia dipilih sebagai percobaan proyek rahasia militer yang kemudian merubahnya menjadi Captain America, senjata utama dalam melawan HYDRA, sebuah organisasi yang dipimpin oleh Johann Schmidt (Hugo Weaving). Hubungan Captain America dengan Peggy Carter (Hayley Atwell) dijalin dengan apik oleh Joe Johnston karena Peggy Carter disini bukan Denzel in the stress macam Mary Jane Watson yang sedikit-sedikit harus diselamatkan. Namun Peggy Carter (Hayley Atwell) selalu muncul (entah jabatannya setinggi apa) bersama Colonel Phillips (Tommy Lee Jones) untuk memberikan bantuan dalam pertempuran Captain America. Salah satu misi Captain America adalah menyelamatkan James Barnes (Sebastian Stan) dan banyak pasukan Amerika dari tahanan Hydra. Secara fisik Chris Evans memang cukup besar, namun selain dia terlihat lebih besar ketika menjadi Captain America dengan tambahan protein dan otot, pemilihan lawan main seperti Sebastian Stan, Tommy Lee Jones, dan Dominic Cooper yang tidak terlalu besar juga berpengaruh. Jika lawan mainnya Hugh Jackman, tentu Captain America akan terlihat biasa saja.

Banyak hal yang akan membuat Anda tertawa atau bingung dalam Captain America: The First Avenger ini. Jika anda mengikuti komik Captain America, the cube atau kubus biru yang muncul dalam film mungkin terasa asing, seasing kehadiran Howard Stark (Dominic Cooper). The cube dan Howard Stark (Dominic Cooper) disini selain sebagai bumbu cerita juga dimaksudkan sebagai penghubung nantinya dalam The Avenger. Rasanya ada si Narsis Robert “Iron Man” Downey Jr. dalam Captain America: The First Avenger, yaitu karena Howard Stark. Lompatan alur cerita Captain America: The First Avenger tidak terlalu jauh kecuali bagian awal dan akhir. Efek 3D di beberapa scene sangat terasa, paling tidak Anda tidak terlalu rugi menonton versi 3D. Saya menilai Captain America adalah superhero yang paling polos, lebih polos dari Spiderman yang memang tidak teralu baik nasibnya. Maka Anda perlu menonton Captain America: The First Avenger untuk mengetahuinya.

Note : Jangan terburu-buru meninggalkan gedung bioskop setelah film ini usai karena ada adegan tersembunyi di penghujung film. Anda sama sekali tidak akan rugi untuk sedikit bersabar menunggu.

2D atau 3D? Di beberapa bagian 3D-nya sangat terasa, meskipun secara keseluruhan masih kurang memuaskan. Jika Anda bukan penggila 3D atau memang kurang nyaman dengan 3D, lebih baik pilih versi 2D saja.

Acceptable

Oleh Anisa Caesar (link: http://www.facebook.com/anisacaesar )

No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch