March 10, 2015

REVIEW : AMERICAN SNIPER


“I was just protecting my guys, they were trying to kill our soldiers and I'm willing to meet my Creator and answer for every shot that I took.” 

Siapapun yang mengira American Sniper akan berisi parade desingan-desingan peluru, ledakan-ledakan bom, maupun suara retakan tubuh seperti yang bisa kamu jumpai di Lone Survivor, tunggu dulu. Adaptasi dari memoir rancangan Chris Kyle berjudul American Sniper: The Autobiography of the Most Lethal Sniper in U.S. Military History ini lebih menekankan pada kegalauan seorang penembak jitu berupa pertentangan batin sekaligus trauma psikologis sebagai hasil dari prestasinya ‘membantai’ sekitar 160 orang di medan perang ketimbang mengumbar adegan peperangan yang hanya sesekali ditampakkan oleh Clint Eastwood di sela-sela kerapuhan Chris Kyle. Ya, American Sniper memang lebih banyak memperoleh sokongan melalui pilar drama daripada aksi walau ini tak lantas menghentikannya untuk menggelontorkan sejumlah momen brutal, mencekam, dan memilukan yang memberi gambaran riil terhadap situasi medan pertempuran yang dipenuhi kekacauan kepada penonton. 

Dibesarkan di Texas, sedari kecil Chris Kyle (Bradley Cooper) telah diajarkan untuk menembak dan berburu oleh sang ayah, Wayne Kyle (Ben Reed), yang berdampak pada terasahnya indera penglihatan sekaligus menajamkan akurasi dalam membidik target. Keahliannya ini tak banyak bermanfaat bagi Chris saat dia menjalani kehidupannya sebagai seorang penunggang rodeo hingga sebuah tayangan televisi menggugah hatinya untuk mengabdi pada negara lewat Navy SEAL walau usianya kala itu tak lagi muda. Hanya sesaat usai resmi dilantik sebagai bagian dari SEAL, takdir mempertemukannya pada Taya (Sienna Miller). Keduanya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk membina rumah tangga. Ironisnya, belum juga sempat berbulan madu, Chris memperoleh panggilan tugas ke Irak menyusul terjadinya tragedi 9/11. Menjalani hari demi hari sebagai penembak jitu di medan perang bukanlah perkara mudah bagi Chris terlebih saat sisi kemanusiaan dan nasionalisme dalam dirinya terus menerus berbenturan yang menyeretnya pada berbagai situasi dilematis. 

Menilik pada kupasan topik, subjek pembahasan, serta kecintaan Hollywood untuk melakukan selebrasi terhadap tangguhnya negara mereka – bahkan sebetulnya ini telah terpampang secara nyata lewat judul, tagline, dan desain poster – maka American Sniper tentunya sebuah bentuk glorifikasi terhadap tentara Amerika (bahkan Amerika Serikat itu sendiri!). Ini Amerika bingits ditinjau dari cara Eastwood memaparkan sisi manusiawi yang sepenuhnya berada di sisi putih dari Chris Kyle, memberikan gambaran buruk pada warga sipil Irak sekalipun bukan ekstrimis, dan menjustifikasi serangan ke Irak menggunakan dalih mempertahankan keamanan dunia. Bagi kamu yang alergi sepenuhnya pada arogansi negeri Paman Sam, menentang keras Perang Irak, maupun tidak menyetujui pengultusan aksi ‘patriotisme’ Chris Kyle, American Sniper is simply not for you. Dan jangan katakan kamu belum diperingatkan. 

Tapi jika kamu bersedia masa bodoh, menganggap bahwa American Sniper tidak lebih dari sekadar produk hiburan lainnya dari Hollywood yang (entah disengaja atau tidak) memiliki niatan menyebar propaganda, maka American Sniper mungkin akan membetot perhatianmu. Garapan teranyar dari Eastwood setelah Jersey Boys yang kurang begitu sukses itu memotret pemandangan horor yang sewajarnya terhampar di medan perang tanpa malu-malu. Artinya, bersiaplah untuk melihat peluru melesat cepat menembus tubuh para target, muncratan darah di sana sini, dan gelimangan mayat warga sipil yang tidak pandang bulu (termasuk bocah sekalipun!). Visualisasinya memang tidak setraumatis Fury atau semenegangkan Lone Survivor, namun dengan kebrutalan semacam ini, apa yang terpampang di layar bioskop masih menimbulkan efek mengerikan dan mencekam yang berbalut rasa pilu sampai-sampai cukup sulit untuk disaksikan. 

Apa yang membuat American Sniper terasa mengikat – seperti halnya apa yang telah dijabarkan di paragraf pembuka – adalah ini bukan saja soal bagaimana Eastwood menerjemahkan Perang Irak ke dalam bahasa gambar serealistis mungkin tetapi juga turut menguliti dampak peperangan ini ke tentara Amerika yang selamat saat mereka menapaki kembali kehidupan normal. Begitu keluar dari zona perang, narasinya mengikuti jatuh bangunnya Chris Kyle dalam beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, keluarganya, serta mencoba berdamai dengan penyesalan-penyesalan yang senantiasa mengikutinya. Tidak selamanya bangunan yang disokong oleh pilar drama ini menyajikan pertentangan batin sang tokoh utama secara menarik, ada kalanya berasa hambar dan cukup menjemukan, namun sulit disangkal bahwa Bradley Cooper yang menggerakkan roda film memberi akting terbaiknya di sini. He’s so damn good! Dari postur, gestur, hingga air muka berhiaskan ketakutan, kecemasan, pula kebimbangan di balik perangai tangguhnya, memancarkan sosok Chris Kyle yang memberi penonton rasa percaya bahwa dia adalah Chris Kyle, bukan Bradley Cooper sekaligus mengeluarkan rasa simpati penonton pada sosok Chris (mengesampingkan sudut pandangnya soal perang, tentu saja) hingga akhirnya dibuat tersentuh oleh epilognya yang merobek hati didalam kesunyiannya.

Exceeds Expectations

No comments:

Post a Comment

Mobile Edition
By Blogger Touch