“Never tell a soldier that he does not know the cost of war.”
Tatkala mengetahui bahwa Eye in the Sky bakal mengambil latar minimalis (sebagian besar di dalam ruangan!) dengan plot hanya berkisar pada pengambilan keputusan atas sebuah penyerangan, kesan yang mungkin pertama kali berkelibat di benak kebanyakan orang adalah “membosankan banget” terlebih kandungan politisnya cukup pekat. Setidaknya begitulah perkiraan awal saya terhadap film arahan Gavin Hood (Tsotsi, X-Men Origins: Wolverine) ini mengesampingkan rentetan daftar pemainnya yang menggiurkan. Tanpa memboyong ekspektasi tinggi ke dalam gedung bioskop, saya justru terkecoh karena kenyataannya “membosankan” adalah kata terakhir yang bisa dipilih untuk mendeskripsikan film ini. Eye in the Sky sungguh piawai dalam membetot atensi penonton sedari adegan pembuka hingga credit title bergulung-gulung di layar melalui kemahirannya menyampaikan cerita, menciptakan nuansa yang tepat, dan parade akting-akting jempolan. Lebih dari itu, ini adalah sebuah tontonan dengan permainan emosi kelas wahid dan ketegangan yang diatur untuk senantiasa berada di level paling atas.





