March 22, 2019

REVIEW : US


“They look exactly like us. They think like us. They know where we are. We need to move and keep moving. They won’t stop until they kill us… or we kill them.”

Dikenal sebagai seorang komedian, siapa yang menyangka jika Jordan Peele ternyata amat lihai dalam meramu sajian horor yang sanggup membuat para penontonnya merasa tidak nyaman? Dalam debut penyutradaraannya, Get Out (2017), yang menghantarkannya meraih piala Oscars untuk kategori Naskah Asli Terbaik, Peele memang tidak menggedor jantung penonton dengan penampakan-penampakan memedi maupun gelaran adegan sadis. Dia memberikan mimpi buruk melalui “rumah calon mertua yang penuh rahasia” dimana white supremacy ternyata masih dijunjung tinggi dibalik penampilan luar serba toleran dan terbuka. Bagi masyarakat Amerika Serikat yang tengah dirundung persoalan rasisme – dan sejatinya ini terjadi pula ke berbagai belahan dunia – apa yang disampaikan oleh Peele di sini terasa relevan. Mewakili keresahan publik terhadap situasi sosial politik yang semakin gonjang-ganjing khususnya bagi masyarakat dari kalangan minoritas. Alih-alih terdengar ceriwis, komentar si pembuat film justru terasa efektif berkat kecakapannya dalam bercerita dimana isu yang mendasari keresahannya lantas diwujudkan sebagai sumber teror. Entah bagi kamu, tapi bagi saya, manusia memang tampak lebih mengerikan ketimbang makhluk-makhluk supranatural semacam hantu lantaran ada ancaman nyata yang ditunjukkan terlebih saat mereka dibutakan oleh nafsu berbalut kebencian. Bukankah terdengar mengerikan saat manusia rela menghalalkan segala cara hanya demi memenuhi kepuasan pribadi? Peele menyadari betul hal itu sehingga dia pun kembali memanfaatkan sisi gelap manusia sebagai “sang peneror” dalam film terbarunya, Us, yang ternyata oh ternyata… terasa lebih mencekam dibanding film perdananya!

Seperti halnya Get Out, karakter utama yang menggerakkan roda penceritaan dalam Us pun berasal dari satu keluarga kelas menengah. Yang kemudian membedakannya adalah personil keluarga yang menjadi sentral cerita di sini kesemuanya berkulit hitam serta tidak memiliki persoalan dengan white supremacy maupun rasisme. Mereka tampak bahagia, mereka pun tampak normal. Bahkan mereka mempunyai sebuah villa di dekat pantai yang dapat dimanfaatkan untuk berlibur dan melepas penat. Jadi, apa yang mungkin salah kali ini? Well, (lagi-lagi) seperti halnya Get Out dan tentu saja realita dalam kehidupan ini, tidak ada manusia yang sempurna. Seseorang yang terlihat bahagia seolah tidak memiliki beban hidup pun dapat menyimpan sebuah rahasia kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun. Dalam konteks Us, rahasia tersebut dipendam oleh Adelaide Wilson (Lupita Nyong’o) yang rupanya memiliki pengalaman traumatis semasa kecil saat bertandang ke taman hiburan di dekat pantai. Dia bertemu dengan doppelganger atau seseorang yang memiliki kemiripan wajah dengannya sampai-sampai Adelaide tak sanggup berbicara selama beberapa saat. Saking eratnya Adelaide menyimpan rahasia ini, tak seorang pun yang mengetahuinya termasuk sang suami, Gabriel (Winston Duke – rekan main Nyong’o dalam Black Panther), dan kedua anaknya, Zora (Shahadi Wright Joseph) beserta Jason (Evan Alex). Rahasia yang telah dipendam oleh Adelaide selama tiga dekade lamanya ini perlahan mulai tersingkap saat keluarga Wilson mendapat kunjungan tak terduga di villa pada malam ini. Kunjungan tak terduga yang jauh dari kata bersahabat dari satu keluarga yang seluruh personilnya memiliki kemiripan fisik dengan Adelaide, Gabriel, Zora, maupun Jason. Hiii… ngeri!


Berbeda dengan Get Out yang membutuhkan waktu cukup lama untuk memanas, Us telah menebar kengerian sedari prolog. Bukan tipe kengerian bertabur jump scares dimana penonton dibuat terkaget-kaget oleh kemunculan suatu entitas dengan iringan musik yang telah diatur untuk senantiasa berada dalam volume tertinggi, melainkan tipe kengerian yang membuat hati merasa was-was. Penonton dikondisikan untuk merasakan ada sesuatu yang salah di sekitar Adelaide cilik saat dia berkunjung ke taman bermain bersama kedua orang tuanya. Apa itu dan darimana asalnya? Hanya Tuhan dan tim pembuat film yang mengetahui. Yang jelas, kenyamanan saya sudah terusik sedemikian rupa sehingga tak lagi bisa duduk dengan tenang di kursi bioskop. Saya hanya bisa menanti dengan cemas seraya bertanya-tanya: apa yang akan menimpa Adelaide di menit berikutnya? Sesuai dengan prediksi, kemalangan tersebut memang pada akhirnya menghampiri si gadis cilik. Melalui adegan pembuka ini, saya menjumpai rasa penasaran lain untuk menemukan relevansinya dengan narasi utama. Sebelum kita mendapati jawabannya, penonton diperkenalkan terlebih dahulu kepada keempat karakter utama yang konfigurasinya terdiri dari Adelaide yang tampak menyimpan banyak kecemasan, Gabriel yang selow abis mengikuti fungsi karakternya sebagai comic relief, Zora yang cenderung acuh tak acuh terhadap kondisi sekitar, serta Jason yang sedikit nyentrik. Peele mengupayakan agar kita membentuk ikatan dengan mereka sehingga saat teror berwujud home invasion secara resmi dimulai, kita pun menaruh kepedulian atas nasib keempatnya. Kita berharap banyak agar mereka dapat terlepas dari bencana ini.

Setelah “para kembaran” mulai memasuki arena penceritaan, Us yang tadinya sempat mengalun santai pun tak lagi memperkenankan para penontonnya untuk menghela nafas lega. Adegan kucing-kucingan antara keluarga Wilson dengan kembaran mereka yang mendominasi sebagian besar durasi mampu dihantarkan dengan sangat mencekam oleh Peele berkat ketelatenannya dalam meramu berbagai macam bahan baku. Bahan baku yang dimanfaatkan oleh si pembuat film antara lain: 1) pemilihan gambar yang menguarkan nuansa yang bikin bulu kuduk meremang, 2) penyuntingan yang rapat, 3) iringan musik menghantui bernafaskan orkestra yang dibawakan oleh paduan suara, 4) jalinan penceritaan yang sarat komentar sosial, serta 5) performa para pelakon yang mendefinisikan kata “sinting”. Ya, bahan baku ini memang kurang lebih senada dengan Get Out. Hanya saja, Peele memilih untuk menggeber teror yang tertampang nyata sedari mula dalam wujud “kembaran jahat” yang mengenakan pakaian terusan berwarna merah dan membawa gunting tajam alih-alih menyembunyikannya. Melalui mereka, penonton seolah diminta membayangkan, “bagaimana jika kamu ternyata memiliki saudara kembar yang sangat keji dan tidak segan-segan menghabisimu?”. Melalui mereka pula, penonton diajak berkontemplasi mengenai sisi kelam manusia yang merupakan pesan utama dari Us. Kita acapkali mempunyai ketakutan terhadap orang lain yang berbeda dari segi warna kulit, agama, ras, strata sosial, hingga cara berpikir sampai-sampai muncul prasangka bahwa mereka adalah ancaman. Mereka adalah musuh terbesar umat manusia yang harus diperangi atau minimal, dikucilkan. Tapi bagaimana jika ternyata selama ini musuh terbesar yang harus diperangi adalah diri kita sendiri? Bagaimana jika ternyata kita memiliki pemikiran-pemikiran kejam dan ‘menyimpang’ yang tak pernah sekalipun kita sadari? Bagaimana jika ternyata kita bukanlah “orang baik” seperti yang kita bayangkan?


Komentar menggelitik pemikiran mengenai “musuh terbesar manusia yang sesungguhnya” ini berpadu pula dengan komentar lain bernada sosial politik terkait opresi terhadap kaum minoritas serta privilege yang dipunyai masyarakat kelas menengah. Tak sekalipun terkesan menceramahi, komentar ini justru memberikan daya tarik tersendiri bagi Us lantaran menyodori bahan bagi penonton untuk berdiskusi selepas menonton termasuk membedah simbol-simbol yang ditebar sepanjang durasi (contoh: apa makna Jeremiah 11:11? Hands Across America?) dan mempelajari karakter Adelaide beserta sang doppelganger yang disebut Red. Jika sederet orbolan ini terdengar berat untuk dicerna – terlebih kalau kamu hanya ingin memperoleh hiburan – tak perlu risau karena Peele masih akan memanjakanmu dengan rentetan teror yang bikin jantung berdegup kencang. Ada momen-momen sunyi yang menggelisahkan, ada adegan pertikaian berhiaskan muncratan darah, ada elemen laga di saat para karakter inti berusaha melarikan diri dari “sang kembaran”, dan paling penting, ada Lupita Nyong’o yang penampilan hebatnya akan memberimu mimpi buruk. Dia terlihat amat tangguh sekaligus rapuh saat melakonkan Adelaide yang dihantui oleh trauma masa lalu, sementara saat menghidupkan karakter Red… well, tatapan matanya pun sudah bikin terkencing-kencing. Adegan saat Red mengajak keluarga Wilson berdialog di depan perapian ruang tunggu merupakan salah satu momen emas yang dipunyai Us. Tengok air mukanya, amati gesturnya, dan dengarkan suara paraunya, maka kamu pun tak ingin berbuat macam-macam dengannya karena sudah jelas Red adalah salah satu villain paling mengesankan dalam sejarah sinema horor.

Outstanding (4/5)


14 comments:

  1. Replies
    1. Yah, filmnya udah turun. Baca ulasan singkat di linimasa Twitter @cinetariz saja ya 🙏

      Delete
  2. Kog g ada yg reviu five feet apart yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku jh nungguin review ini soalnya mau buru2 nonton sebelum turun layar di bioskop2.

      Delete
    2. Tadinya emang nggak berencana diulas sih karena ada kesibukan. Tapi nanti coba diusahakan.

      Delete
  3. Aku nonton ini blingsatan ga tenang di bangku. Terornya ampun2an, musiknya edan juga tuh bikin ga nyaman (jenius nih pemilihan musik pengiringnya). Tapi ku gagal paham endingnya, dah tu kelompok red bikin barisan segambreng gitu doang? Atau aku yg kurang nangkep krn nontonnya sambi main Hp ya (lemah akutu nntn film ini)? ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yekan? Musiknya horor benerrrrr....

      Aku kurang nangkep pertanyaanmu. Ini maksudnya ke motivasi kelompok Red atau bagaimanakah? Menurutku keberadaan barisan di akhir film itu lebih ke pernyataan. Mereka ingin berkata, "kaum tertindas dan terlupakan seperti kita juga bisa melakukan perlawanan. Jangan anggep remeh. Kita punya solidaritas dan rasa kebersamaan antara satu dengan lain, itu yang membuat kita kuat. Yang membuat kita bisa mengalahkan kalian." Ya statement si pembuat film juga sih soal kelompok minoritas.

      Delete
  4. Filmnya juara..
    Dibuat ga nyaman sepanjang film. Tapi emang department acting dan scoring film ini luar biasa keren. Kayanya performance Lupita oscar Worthy deh mas. Cuma nasibnya jangan kaya Toni Colette yg dianggap outstanding di hereditary, tapi malah di snub abis di oscar..
    Twist endingnya jg lumayan surprising. . En plotnya juga dibuat rapi banget sama jordan peele. Nih orang padahal komedian juga kan ya! Kok bisa - bisanya bikin film 'sakit' kaya gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia memang komedian, tapi sketsa komedinya dia juga suka gelap kok. Sepertinya Peele ini memang suka menyelami sisi gelap manusia :)))

      Yes. Aktingnya Lupita layak diganjar Oscar. Mudah-mudahan kali ini banyak juri yang nonton dan tidak menyingkirkannya macam Emily Blunt di A Quiet Place. Kalau Toni Colette sih karena banyak juri yang nggak nonton. Dianggap terlalu mengerikan. Lupa baca dimana tapi mereka mengakui ini.

      Delete
  5. Di buat pertanya dgn plot twist nya yg menurut saya ada yg mengganjel. Tapi secara keseluruhan film ini sunggu layak di tonton.

    ReplyDelete
  6. Film yg sangat menarik buat dibahas. Plot twistnya gokil. Tapi masih banyak pertanyaan buat penonton. Penonton dibuat berteori liar dengan hubungan antara red dan adelaide. Apa yang membuat adelaide (yg sebetulnya adalah red) sangat khawatir dengan anaknya adelaide. Kalaupun doppelganger ga bisa ngomong, trus knpa cuma red aja yg bisa ngomong. Dan masih banyak pertanyaan lain lagi. Tapi so far film yg bikin tidur ga nyenyak, karna trus kebayang sama muka Umbrae (kembaran Zora) senyumnya mengganggu penuh teror.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doppelganger bisa ngomong kok. Tapi mereka nggak tahu cara berkomunikasi dengan benar jadi keluarnya suara-suara random seperti binatang. Red bisa ngomong karena dia akhirnya dilatih. Awalnya juga dia kan keliatan bingung bagaimana caranya berkomunikasi.

      Delete
  7. Spoiler: Anaknya yang cowok sepertinya mencurigakan, seperti Adelaide kah?

    ReplyDelete
  8. saya baru nonton film ini dari Bluray yang bertebaran di internet. Saya akui film ini sangat gokil dan jujur aja membuat saya berpikir sepanjang 30 menit (setelah film berakhir) sambil merangkai rangkaian film ini di otak dan berkata dalam hati.... bener juga ya? sempat kepikiran apa itu benar-benar Adelaide atau hanyalah si Red yang bertahan hidup dan ah..... tatapan akhir si jason memang mengundang tanda tanya....

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch