February 20, 2011

REVIEW : THE KING'S SPEECH


Sebelum sejumlah film asing menolak tayang di bioskop Indonesia, para pecinta film cukup beruntung karena masih bisa menyaksikan beberapa tayangan bermutu di bioskop macam The King's Speech, The Fighter maupun Shaolin. Cukup melegakan The King's Speech bisa tayang di bioskop sementara rekan seperjuangannya, 127 Hours, harus mengalami nasib yang mengenaskan karena terpaksa ditunda penayangannya setelah MPA merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Indonesia. The King's Speech yang dikomandoi oleh Tom Hooper, saat ini menjadi unggulan utama untuk meraih piala Oscar kategori Best Picture setelah sebelumnya berhasil menang besar di beberapa ajang penghargaan film bergengsi menyingkirkan saingan beratnya, The Social Network. Timbul banyak pertanyaan dan tentunya ini memunculkan rasa penasaran para pecinta film, apa yang membuat The King's Speech begitu dicintai oleh kritikus dan juri penghargaan ? Didukung tiga nama besar ; Colin Firth, Helena Bonham Carter dan Geoffrey Rush, The King's Speech bertutur dengan sederhana dan tidak berbelit - belit.

Rasanya hampir setiap orang pernah mengalami perasaan nervous dan takut saat diminta untuk berpidato di hadapan banyak orang. Memang, harus diakui, meski terlihat mudah namun berpidato itu bukanlah perkara yang mudah. Bahkan para pemimpin dan pejabat negara pastinya pernah merasakan hal yang sama. Ini manusiawi sekali, tak perlulah merasa malu untuk mengakuinya. Nah, saat orang normal saja mengalami kesulitan saat diminta berpidato, lantas bagaimana dengan mereka yang memiliki penderita gagap ? Inilah yang coba diangkat oleh David Seidler dalam naskah buatannya yang ciamik itu. Film dibuka dengan kegagalan Prince Albert (Colin Firth) dalam menyampaikan pidato penutupan pameran kerajaan dengan lancar karena kegagapannya. Karena malu, terlebih mengingat statusnya adalah pangeran, Albert mencari dokter ahli untuk menyembuhkan gagapnya ini. Namun dia merasa kurang cocok dengan metode penyembuhan yang diterapkan oleh sang dokter hingga kemudian istrinya (Helena Bonham Carter) mencari alternatif lain dan membawanya ke Lionel Logue (Geoffrey Rush), seorang terapis yang sejatinya merupakan aktor gagal. Lionel memiliki pendekatan yang berbeda dan cenderung tidak lazim dalam menyembuhkan pasiennya, bahkan berulang kali Albert protes karena ini.


Merasa tertekan, Prince Albert kehilangan kepercayaan bahwa gagapnya bisa disembuhkan. Di saat dia mulai menjauhi Lionel, cobaan menghampirinya. Sang ayah, King George V (Michael Gambon), mangkat, dan kakaknya yang ditunjuk sebagai pewaris tahta malah menyatakan ketidaksanggupannya demi menikahi janda Amerika yang dia cintai. Mau tidak mau, Prince Albert lah yang menjadi satu - satunya harapan kerajaan Inggris. Di saat inilah Prince Albert atau King George VI kembali menemui Lionel. Kali ini tidak sebagai pasien, melainkan sebagai seorang sahabat. Cukup mengejutkan saya ternyata The King's Speech memiliki kisah yang berbeda dari drama historikal sejenis yang biasanya berkutat mengenai romantisme atau perebutan kekuasaan. Hooper lebih menekankan pada persahabatan unik yang terjalin antara King George VI dengan Lionel dan justru inilah yang membuatnya menarik buat disimak. Barisan cast-nya tak ada yang mengecewakan terutama Colin Firth yang bermain gemilang sebagai King George VI dan Geoffrey Rush yang tampil meyakinkan sebagai terapis 'sinting'. Helena Bonham Carter yang sekali ini tampil normal, pas sekali dalam menghidupkan peran Elizabeth. Akankah juri Oscar memenangkan mereka ? Sulit untuk diwujudkan, namun satu hal yang pasti Colin Firth harus membawa pulang piala Best Actor. Harus !

Tidak dituturkan dengan drama berdialog panjang, The King's Speech memilih untuk mengalir dengan santai. Seidler memenuhi dialognya dengan humor - humor khas Inggris yang segar dan menggelitik yang sanggup membuat penonton tertawa renyah berkali - kali. Tak hanya lucu, The King's Speech juga menyentuh sekaligus menginspirasi. Bagi yang menderita gagap maupun mereka yang sulit untuk berbicara di depan khalayak ramai tentu akan tersentuh mengikuti kisah hidup King George VI. Persahabatannya dengan Lionel juga digambarkan dengan begitu manis, menjelaskan kepada penonton apa makna dari persahabatan dan apa itu sahabat sejati. Ya, The King's Speech bukanlah drama historikal biasa yang mengisahkan kehidupan seorang raja, namun lebih dari itu, menyampaikan pesan yang penting mengenai persahabatan dan keberanian. Sungguh film yang menginspirasi. Saat film berakhir, saya hampir tak sadar telah menitikkan air mata dan pada akhirnya mengacungkan dua jempol untuk film yang digarap dengan sangat baik oleh Tom Hooper ini. Sebuah film yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Outstanding

Trailer :


4 comments:

  1. setujuuuuu....dan film ini tidak membosankan.

    ReplyDelete
  2. hiks, apa daya gak ada duit. gak bisa nonton. pdhl udah nunggu2. :(

    ReplyDelete
  3. pengen nonton lagi deh, seru liat sesi terapinya :)

    ReplyDelete
  4. ^ rencananya aku akan nonton lagi setelah Rumah Tanpa Jendela kelar ditonton. Iya, sesi terapinya seru dan lucu. Lionel terapis yg mengasyikkan :)

    @ bang ben : ayo ditonton! minggu depan kan sudah tanggal muda tuh, dijamin tak nyesel :)

    @ zaenal : sepakat. Padahal biasanya aku kurang suka film yg bersetting kerajaan (jadul pula), tapi TKS ternyata menyenangkan buat ditonton.

    ReplyDelete

Mobile Edition
By Blogger Touch