May 26, 2022

3 Alasan Mengapa The Killer’s Shopping List Menarik Ditonton

Jika membicarakan tentang drama Korea, saya bukan termasuk penikmat setianya yang melahap hampir semua rilisan baru tanpa peduli genre, pemain, maupun isu yang dibawa. Saya tergolong amat selektif karena menonton serial membutuhkan komitmen lebih besar yang merentang selama beberapa minggu dibanding menonton film yang hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam saja. Itulah mengapa kala saya menantikan atau memutuskan untuk melahap satu drama Korea, maka jelas ada sesuatu yang menarik perhatian diri ini buat mencicipinya. Salah satu judul terbaru yang membuat hamba tergelitik sedari terpapar teaser trailernya yakni The Killer’s Shopping List yang tayang di Viu mulai 28 April ini.

Setidaknya ada tiga alasan yang mendorong saya untuk menantikan kehadiran serial bergenre komedi misteri ini;

December 29, 2021

Review The Red Sleeve: Kisah Cinta Putra Mahkota dan Selir Bikin Baper

Beberapa waktu lalu, saya menjajal satu drama Korea Selatan yang sedang ramai diperbincangkan, The Red Sleeve, di platform Viu. Konon, drama saeguk alias drama sejarah yang dibintangi oleh Lee Jun-ho (salah satu personil boyband populer 2PM) dan Lee se-young ini terus mengalami kenaikan dari sisi rating di tiap episode.

Dimulai dengan angka 5,7% di episode perdana, kini drama yang guliran pengisahannya disadur dari novel berjudul The Red Sleeve Cuff rekaan Kang Mi-kang ini sudah nyaris merapat ke angka 11%. Mengagumkan, bukan? Dilandasi oleh pencapaiannya yang impresif tersebut, saya pun tergerak untuk menjajalnya. Apalagi sudah cukup lama diri ini tidak menonton serial buatan Negeri Gingseng yang melempar kita jauh ke beberapa ratus tahun silam.

December 21, 2021

Yuk, Intip 4 Fakta Menarik Drama Korea Happiness!

Buat kamu penggemar drakor dengan genre thriller, drakor terbaru berjudul Happiness bisa masuk ke dalam list tontonan barumu. Meski memiliki judul Happiness, namun ceritanya justru jauh dari "bahagia". Dibintangi oleh Han Hyo Joo dan Park Hyung Sik, drama yang berjumlah 12 episode ini menceritakan tentang bagaimana masyarakat Korea bertahan di tengah adanya wabah penyakit baru.

Latar cerita Happiness dimulai sesaat setelah wabah Covid-19 yang menyerang seluruh dunia telah teratasi. Meski begitu, Korea Selatan kemudian justru terancam dengan wabah virus jenis baru yang membuat penderitanya mengalami delusi parah dan selalu merasa haus. Sayangnya, rasa haus ini hanya bisa diatasi dengan meminum darah manusia, mirip seperti zombie.

Di tengah kekalutan masyarakat akan wabah baru ini, sebuah apartemen yang dihuni oleh Yoon Sae Bom (Han Hyo Joo) dan Jung Yi Hyun (Park Hyung Sik) ditutup karena terdapat kasus penyebaran di dalamnya. Hal ini membuat para penghuni harus bertahan hidup di tengah ketakutan serta rasa tidak percaya di antara mereka.

October 7, 2021

Review - The Publicist (Viu Original Series)

“Kamu masih cinta kah sama laki-laki brengsek di depan kamu ini?”

Ada yang pernah mendengar drama Indonesia berjudul The Publicist? Beberapa waktu lalu, saya baru menemukan original series produksi Viu bekerjasama dengan Moviesta Pictures ini yang ternyata sudah memenangkan tiga penghargaan di Asian Academy Creative Awards 2018 termasuk Best Drama Series dan Best Supporting Actress untuk Poppy Sovia. Sejujurnya, hamba termasuk jarang menyentuh serial produksi dalam negeri (well, trauma terhadap sinetron di TV masih membayangi) kecuali untuk beberapa judul yang sudah mencuri perhatian melalui premis, kedekatan pada materi sumber jikalau berbentuk adaptasi, serta jajaran pemain yang terlibat. Khusus untuk Viu Original Series The Publicist ini, faktor terakhir lah yang membuat saya tergerak untuk mencicipinya. Betapa tidak, barisan pelakonnya tergolong menjanjikan seperti Prisia Nasution, Adipati Dolken, Baim Wong, Poppy Sovia, serta Reza Nangin. Belum lagi sutradara yang ditunjuk untuk mengomandoi proyek ini pun mempunyai jejak rekam membanggakan, Monty Tiwa (Sabtu Bersama Bapak, Critical Eleven). Jadi, bagaimana tidak tergiur untuk menjajalnya? Apalagi guliran pengisahan yang dibawa The Publicist juga terhitung segar.

April 22, 2021

REVIEW - BAD SAMARITAN

“He’s gonna kill us.”

Beberapa waktu lalu, hamba baru menemukan sebuah hidden gem yang tak banyak diperbincangkan oleh netizen dan sepertinya malah sudah mulai terlupakan keberadaannya. Film tersebut berjudul Bad Samaritan, disutradarai oleh Dean Devlin (Geostorm), serta dirilis pada tahun 2018 silam. Saat menontonnya, diri ini sampai bertanya-tanya, “apa yang aku lakukan tiga tahun lalu sampai mengabaikan film ini?.” Jawaban yang mungkin paling masuk akal adalah, Bad Samaritan tidak mendapatkan respon yang menggembirakan dari publik maupun kritikus kala diluncurkan. Tidak ada pujian, tidak ada pula cacian, hanya dianggap sebagai angin lalu. Bentuk resepsi yang jujur saja saya pertanyakan karena film bergenre thriller ini tergolong salah satu yang paling menggigit di genrenya dalam beberapa tahun terakhir. Kamu memang tidak akan menemukan jalinan pengisahan yang benar-benar baru maupun mindblowing, tapi saat film tersebut mampu mencengkrammu erat-erat sedari awal sampai akhir, mengapa kebaruan ini menjadi sesuatu yang penting? Maksudku, bukankah saat filmnya sanggup membawamu ikut terhanyut ke dunia di dalam film seharusnya sudah cukup ya?

April 19, 2021

REVIEW - PERCY

“There’s a lot of farmers around the world who can’t stand up, I figure I should.”

Pada tanggal 6 Agustus pagi di tahun 1998, seorang petani dari Saskatchewan, Kanada, bernama Percy Schmeiser menerima “surat cinta” dari Monsanto, perusahaan agrikultur raksasa yang telah menancapkan pengaruhnya di berbagai belahan dunia. Isi surat tersebut tak saja membuat Percy terkejut, tapi juga luar biasa marah. Betapa tidak, tanpa ada pemberitahuan, peringatan, atau bahkan teguran sebelumnya, dia mendadak digugat oleh Monsanto setelah mereka menemukan tanaman kanola jenis Roundup Ready (tanaman ini sudah dimodifikasi secara genetik) tumbuh berkembang di lahan Percy. Ini dianggap sebagai suatu masalah lantaran benih kanola jenis Roundup Ready telah dipatenkan haknya oleh Monsanto dan tidak semua petani diizinkan untuk menanamnya kecuali sudah membeli lisensinya secara resmi. Berhubung Percy tak pernah berbisnis dengan perusahaan ini soal benih, penemuan tersebut jelas dianggap sebagai pelanggaran. Atau mengutip langsung dari kata yang dipergunakan oleh si penggugat, “dia telah mencurinya.” 

February 27, 2021

REVIEW : COUNTERPART (TV SERIES)

“We’re caught in the middle of something, whether we want to be or not.”

Saat sedang overthinking merenungi kehidupan sembari memikirkan ide cerita agar dapur tetap ngebul, Justin Marks terpikir gagasan gila, “bagaimana kalau aku bikin sebuah serial yang tidak hanya dibintangi oleh satu J.K. Simmons saja tapi ada dua?.” Tentu, ini hanya karangan hamba semata. Tapi bagaimanapun awal mulanya, “menggandakan” Pak Simmons adalah sebuah rencana yang jenius. Dia adalah aktor yang lebih dari sekadar kompeten dan kemenangannya di Oscar berkat perannya sebagai guru musik yang sadis dalam Whiplash (2014) adalah pembuktiannya. Melalui serial keluaran Sony Pictures Television berjudul Counterpart yang merentang sepanjang dua musim dengan total 20 episode, beliau diberi dua peran unik yang menguji kemampuan berlakonnya. Peran yang dimainkannya sama-sama bernama Howard Silk dan pada dasarnya, kedua karakter ini berbagi kesamaan di sepanjang hidup mereka sekalipun jauh terpisah. Akan tetapi, saat memperbincangkan soal karakteristik, kamu akan melihat keduanya sebagai orang berbeda. Nyaris tidak ada persamaan yang akan membuatmu bertanya-tanya, “bagaimana bisa dua manusia yang mempunyai sejarah masa lalu serupa dapat tumbuh berkembang menjadi manusia yang berlainan?.”  

February 21, 2021

REVIEW : TWO WEEKS TO LIVE (TV SERIES)


“My whole life is a lie.”

Saat pertama kali melihat trailer Two Weeks to Live, sulit untuk tak melontarkan komentar, “apakah ini interpretasi modern dari Game of Thrones? Maksud saya, ada Maisie Williams di sana.” Ya, pemeran utama miniseri asal Inggris berjumlah enam episode hasil kolaborasi antara Sky UK dan HBO Max ini adalah Williams yang dikenal berkat perannya sebagai Arya Stark di serial fenomenal tersebut. Menariknya, kesamaan antara dua serial ini tidak terhenti hanya sampai disitu saja. Karakter yang dimainkan oleh Williams, Kim Noakes, mempunyai perjalanan hidup yang sedikit banyak mengingatkan kita pada Arya. Seorang perempuan mungil yang bertransformasi menjadi remaja pemberontak dan pembunuh keji. Melalui Two Weeks to Live, Kim dikisahkan tinggal dalam kabin yang tersembunyi nun jauh di pedalaman kabin ini dikisahkan membawa misi rahasia untuk memburu pembunuh sang ayah. Selama menjauhi peradaban manusia, ibunya, Tina (diperankan dengan sangat apik oleh Sian Clifford), menggembleng putri semata wayangnya ini untuk menjadi perempuan berdikari yang dapat membela dirinya sendiri dalam kesempatan apapun. Dibalik tampilan luarnya yang tampak polos nan mungil, seriously, you don’t want to mess with Kim.

February 11, 2021

REVIEW : THE FIRST (TV SERIES)

Baru beberapa bulan lalu, hamba menjadi saksi kehebatan akting Sean Penn dalam The Professor and the Madman. Satu film kecil yang apik tapi sayangnya tak banyak dibicarakan. Lalu Mola TV mengakuisi serial berumur pendek produksi kolaborasi antara Hulu asal Amerika Serikat dan Channel 4 dari Inggris, The First, yang membuat saya harus kembali mengakui bahwa Pak Penn memang layak mengoleksi dua piala Oscar. Ya, dia lagi-lagi berlakon secara cemerlang di sini. Bahkan, The First sejatinya digerakkan oleh performa sang aktor yang karakternya ditempatkan dalam poros utama penceritaan. Ini adalah serial bertipe character driven dimana penonton menyaksikan proses tumbuh berkembangnya satu karakter dalam menghadapi suatu persoalan yang kompleks. Dalam kasus The First, persoalan tersebut berkenaan dengan duka, luka, serta kehilangan. Bukan topik yang mudah buat dikonsumsi ya? Itulah mengapa membutuhkan keselarasan dalam akting, pengarahan, sekaligus naskah agar tak terjerembab menjadi sajian grieving porn yang terlampau melelahkan buat disimak. Untungnya bagi serial kreasi Beau Willimon (otak dibalik terciptanya serial kece pemenang penghargaan House of Cards) ini, hal tersebut tak pernah benar-benar terjadi. Kita dapat memahami seraya menempatkan diri dalam posisi Tom Hagerty yang diperankan oleh Sean Penn.

January 1, 2021

REVIEW : ROMULUS (TV SERIES)

Jika kamu menyukai serial berlumurkan intrik, disadur dari cerita epos masa lampau, dan mempunyai production value mumpuni dalam merekonstruksi latar waktu, sajian asal Italia yang bertajuk Romulus ini sudah semestinya berada dalam daftar tontonanmu. Merentang sepanjang 10 episode, serial produksi Sky Italy yang dikomandoi oleh Matteo Rovere bersama dengan Michele Alhaique dan Enrico Maria Artale tersebut mencoba merekonstruksi sejarah dibalik berdirinya kota Roma. Alih-alih mengetengahkan pada legenda Romulus-Remus yang telah diakrabi oleh para penggandrung kisah-kisah mitologi, serial menghadirkan interpretasi anyar yang tak kalah menggigitnya dimana plot berkaitan dengan perebutan tahta kekuasaan, ikatan kekeluargaan, serta peristiwa-peristiwa supranatural membanjiri setiap episodenya. Romulus sendiri tak berlama-lama dalam memperkenalkan latar belakang penceritaan dengan seketika menaikkan intensitas di episode pembuka yang membawa penonton menuju Alba Longa. Melalui introduksi singkat di awal, kita mengetahui bahwa pada abad ke-8 sebelum Masehi, area ini tengah dilanda kekeringan berkepanjangan yang menyulitkan para penduduknya yang mencakup 30 suku untuk memperoleh sumber pangan memadai serta akses ke air bersih.

December 23, 2020

SPECIAL - MOLA LIVING LIVE

Ada satu original content di Mola TV yang menurut hamba sangat menarik untuk disimak dan menjadikannya sebagai pembeda dengan jasa penyedia layanan streaming lain, yakni Mola Living Live. Bukan berwujud film panjang maupun serial, konsep yang dikedepankan oleh acara ini adalah bincang-bincang. Narasumber yang didatangkan pun tidak main-main; figur publik kelas dunia, saudara-saudara, tersayang! Tengok saja deretan nama yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk diwawancara seperti Luc Besson (sutradara), Darren Aronofsky (sutradara), Spike Lee (sutradara), Sharon Stone (aktris), Mike Tyson (petinju), sampai Robert De Niro (aktor). Siapa coba yang tidak mengenal mereka? Lebih-lebih jika kamu menggemari film. Pencapaian yang mereka torehkan selama berkecimpung di industri film – bahkan Tyson sempat pula berkontribusi di bidang seni ini – tidaklah main-main. Sebagian diantaranya telah menggenggam Oscar sebagai penanda pencapaian tertinggi dari sisi kualitas, sementara sebagian yang lain tergolong akrab dengan kata “box office” sebagai penanda pencapaian tertinggi dari sisi kuantitas.

December 2, 2020

REVIEW : RIG 45 (TV SERIES)


“Someone is trying to hide something about the accident.”

Selalu menyenangkan saat kamu menemukan sebuah film atau serial yang sebelumnya berada di bawah radar banyak orang dan ternyata mempunyai kualitas di atas rata-rata. Hamba sudah jarang bereksperimen semacam ini – well, pandemi membuat saya lebih sering cari aman demi menjaga mood – sehingga saat memperoleh penugasan untuk mengulas serial asal Swedia bertajuk Rig 45, diri ini sempat was-was. Lebih-lebih, informasinya di dunia maya pun tak terlampau banyak. Bagaimana jika ternyata serial tersebut tak ciamik? Atau lebih parah lagi, bagaimana jika kemudian serial ini tak ubahnya dongeng pengantar tidur? Ya, saya memang dilanda overthinking selama beberapa saat yang untungnya tak pernah benar-benar terwujud. Sempat skeptis dengan kualitas yang ditawarkan oleh Rig 45, alangkah terkejutnya hamba kala mendapati betapa mengasyikkannya serial sepanjang 6 episode ini. Sebagai penggemar tontonan misteri, guliran pengisahan yang disodorkan oleh serial produksi Viaplay (televisi berbayar di Swedia) ini sedikit banyak mengingatkan saya kepada salah satu mahakarya Agatha Christie, And Then There Were None, dimana sepuluh orang asing diundang ke sebuah pulau oleh seorang misterius dan satu persatu dari mereka tewas dibunuh.

November 27, 2020

REVIEW - YOUNGER (TV SERIES)

“The problem with memories is they lock us in the past, and we both need to move forward. As much I want you in my life, I can’t right now. And I hope you understands why.”

Di masa pandemi yang tak henti-hentinya menguji kesehatan mental saban hari, menonton film atau serial ringan yang membuat hati riang gembira adalah jalan ninja hamba untuk menjaga kewarasan. Beberapa judul urung saya ulas lantaran satu dan lain hal yang mudah-mudahan lekas terselesaikan, tapi saya mencoba kembali menghadirkan review untuk Younger yang diri ini tonton di Mola TV. Satu judul serial yang sejatinya telah mengudara sejak tahun 2015 dan musim ketujuhnya kini tengah dipersiapkan. Diadaptasi dari novel bertajuk serupa rekaan Pamela Redmond Satran, Younger merupakan tontonan bergenre komedi yang benar-benar saya butuhkan saat ini. Tiap musimnya hanya terdiri dari 12 episode – dengan masing-masing episode berdurasi di kisaran 20 sampai 30 menit saja – sehingga memudahkan untuk ditonton secara marathon. Dan memang, hamba mampu menuntaskan musim pertamanya hanya dalam waktu sehari saja (!). Betapa tidak, serial ini memiliki segalanya untuk membuatmu jatuh hati seperti: 1) barisan karakter yang mudah untuk disukai, 2) jalinan pengisahan yang menarik sekaligus dekat dengan persoalan keseharian, dan 3) humor-humor yang efektif dalam mengocok perut. Mudahnya, apa lagi yang dibutuhkan dari serial ini? Dengan adanya dua faktor kunci, relatability and likeability, sudah cukup untuk bikin diri ini kesengsem sampai-sampai menobatkan Younger sebagai serial kesayangan saat ini.

November 4, 2020

REVIEW - HUMANS (TV SERIES)

“You cannot fix humanity’s problems with technology.”

Pernah tidak membayangkan memiliki robot yang bisa mengerjakan semua hal? Maksud saya, robot yang bisa beberes rumah sampai kinclong, bisa bertindak selaiknya pelatih atau perawat profesional, sampai bisa memasak berbagai jenis makanan sehingga tak perlu repot-repot ke restoran. Terdengar menyenangkan, bukan? Praktis. Serial asal Inggris, Humans, yang dikreasi oleh Sam Vincent dan Jonathan Brackley berdasarkan serial dari Swedia bertajuk Real Humans ini menerapkan premis tersebut untuk diejawantahkan menjadi tontonan sepanjang tiga musim. Memberi kita gambaran seandainya robot mempunyai peranan lebih krusial dalam setiap lini kehidupan, ketimbang sebatas didayagunakan oleh korporasi-korporasi raksasa. Demi menjadikannya kian menarik, sang kreator pun tak mendeskripsikan robot-robot ini selaiknya mesin biasa atau menyerupai kaleng berwarna perak. Melainkan diperlihatkan seperti halnya manusia sampai-sampai kamu tak bisa membedakannya hanya dari pandangan secara sekilas. Bahkan, beberapa robot yang menjadi sentral penceritaan dalam Humans dikisahkan mempunyai emosi yang menjadikan batasan antara realita dan teknologi menjadi kian mengabur.

October 18, 2020

REVIEW : PELUKIS HANTU

“Kita bisa mengusahakan kebahagiaan di masa depan, selama kita jujur dan tulus memberikan kemampuan terbaik kita.”

Pelukis Hantu adalah film yang menyenangkan. Begitulah kesan pertama yang tergores selepas menontonnya. Sepintas lalu, tontonan yang mengombinasikan genre horor dan komedi ini memang terlihat seperti sajian seram kelas B yang dibuat untuk mengeruk keuntungan semata tanpa peduli kualitas – jejak rekam genre ini tak cihuy. Lebih-lebih, MD Pictures memutuskan untuk menerjunkannya secara langsung ke layanan penyedia streaming yang tentu memantik kecurigaan hamba: kenapa? Maklum, pengalaman menonton film Indonesia dalam satu bulan terakhir ini sungguh bikin kepala nyut-nyutan sehingga keragu-raguan pun melejit ke angkasa. Sungguh, saya telah berpasrah kepada Tuhan. Akan tetapi, Pelukis Hantu yang menandai untuk pertama kalinya Arie Kriting memulai debut penyutradaraannya, menunjukkan bahwa masihlah ada harapan terhadap produk yang dilempar ke OTT (over the top atau layanan streaming). Mengikuti jejak rekannya sesama komika, Bene Dion, yang tahun lalu menghasilkan Ghost Writer yang mengesankan, Bung Arie mencoba untuk menghadirkan sebuah sajian hiburan yang tak saja membuat penontonnya tergelak-gelak sekaligus terperanjat, tetapi juga mendapatkan sesuatu. Ya, dia turut memasukkan hati ke dalam penceritaan demi menguarkan sisi emosional dari penceritaan serta isu yang kompleks mengenai luka dan trauma. Sebuah langkah yang terhitung berani untuk karya perdana.

October 16, 2020

REVIEW : SEPERTI HUJAN YANG JATUH KE BUMI

“Melarikan diri dari rasa sakit hati itu, enggak akan membuat kita lebih baik. Sakit hati itu harus kita nikmati.”

Terlampau sering di dalam rumah selama pandemi Covid-19, membuat pikiran saya sering melantur kemana-mana. Pernah pada suatu hari yang tidak terlalu indah, saya mendadak punya keinginan amat random, “duh pengen deh nonton film percintaan remajanya Screenplay Films yang ajaib itu. Udah lama sekali rasanya.” Ternyata, dari sekian banyak doa yang pernah hamba rapalkan, doa ini termasuk yang dikabulkan secara cepat oleh Tuhan. Tiba-tiba saja rumah produksi ini, bekerjasama dengan IFI Sinema dan Netflix, meluncurkan Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi ke raksasa penyedia layanan streaming. Film romansa yang didasarkan pada novel laris bertajuk sama rekaan Boy Candra (karyanya yang lain, Malik dan Elsa, pun sudah diadaptasi) ini memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan untuk menjadi sajian cinta-cintaan khas Screenplay. Di sini, kamu bisa mendapati: 1) jalinan penceritaan yang agak sulit dibayangkan akan terwujud dalam kehidupan nyata, 2) dialog berisi untaian kata-kata puitis yang diucapkan oleh para karakter dalam setiap hembusan nafas mereka, dan 3) production value yang tampak berkelas guna membedakannya dengan sajian-sajian serupa yang khusus ditayangkan di stasiun televisi. Terdengar menyiksa menarik, bukan? Tentu saja, seperti sudah hamba duga sebelumnya, film ini pun tak kalah ajaibnya sekalipun telah merekrut nama-nama seperti Lasja F Susatyo (Mika, Sebelum Pagi Terulang Kembali) sebagai sutradara, serta Upi (Teman Tapi Menikah, My Stupid Boss) dan Piu Syarif (Moammar Emka’s Jakarta Undercover) sebagai penulis skenario. 

October 14, 2020

REVIEW : BIDADARI MENCARI SAYAP

“Dalam rumah tangga itu ada nilai hormat. Nggak melulu cinta.”

Cinta terhalang perbedaan etnis dan keyakinan sejatinya sudah beberapa kali dijadikan topik pembicaraan dalam sejumlah film Indonesia. Ada yang disisipkan sebagai subplot belaka, tapi tak sedikit pula yang diajukan sebagai konflik utama. Judul-judul yang saya nilai berhasil mengulik isu sensitif ini antara lain Cin(T)a (2009), 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta (2010), serta Cinta Tapi Beda (2012). Ketiganya memberikan gambaran mengenai peliknya memadu kasih di Indonesia kala dua belah pihak menganut agama yang berlainan. Salah satu dari mereka harus ada yang bersedia mengalah dengan melepaskan keyakinan apabila ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Apabila sama-sama kekeuh, maka tentu mustahil untuk merealisasikan sebuah rumah tangga terlebih dalam khasanah sinema dalam negeri. Keengganan sineas untuk menghadapi kecaman publik – yang selalu mengikuti tiap kali muncul film bertema toleransi dalam perbedaan – membuat film memilih jalan aman dalam konklusi: memenangkan agama alih-alih cinta. Kalaupun ada yang kemudian berpindah agama, jelas bukan dari kalangan mayoritas kecuali siap menerima konsekuensi. Bidadari Mencari Sayap produksi Citra Sinema bersama MD Pictures yang mencoba lebih “berani” dengan meletakkan fokusnya pada kehidupan rumah tangga ketimbang sebatas berpacaran seperti film sejenisnya, adalah contoh. Si karakter perempuan yang notabene non-Muslim (tidak disebutkan secara spesifik agamanya) dikisahkan menjadi mualaf untuk bisa menikahi kekasihnya yang berasal dari keluarga Muslim taat. 

October 12, 2020

REVIEW : WARKOP DKI REBORN 4

“Lagian mana ada sih orang kaya mukanya kek bemo.”

Saat para karakter inti dalam Warkop DKI Reborn 3 kembali muncul di end credit untuk mendendangkan “ahaaa… filmnya dibagi dua, filmnya dibagi dua,” saya sama sekali tidak terkejut. Maklum, bukan pertama kalinya mendapat prank semacam ini dari film Indonesia. Pun begitu, bukan berarti hamba tidak ingin mengelus dada kala momen musikal tersebut muncul. Andai saja film yang baru ditonton sanggup menghadirkan pengalaman penuh kesenangan di sepanjang durasinya, hadirnya bagian kedua tentu akan disambut dengan penuh suka cita – saya pribadi termasuk golongan yang tidak keberatan dengan keberadaan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2. Tapi berhubung babak pertamanya lebih sering membuat saya menertawakan keputusan diri sendiri untuk menonton film tersebut ketimbang menertawakan humor-humornya, ada kebingungan melanda. Ada pertanyaan berkecamuk yang dimulai dengan, “mengapa sih harus dibagi dua? Apa urgensinya?.” Seolah pihak Falcon Pictures sangat percaya diri instalmen reborn terbaru ini akan disambut antusias oleh publik. Kenyataannya, hanya sekitar 800 ribu penonton yang bersedia berbondong-bondong mendatangi bioskop sehingga memaksa rumah produksi untuk mengganti strategi. Alih-alih mengedarkannya di bioskop, mereka memilih untuk langsung menerjunkan Warkop DKI Reborn 4 ke penyedia layanan streaming film dengan harapan bisa sekalian menghibur masyarakat semasa pandemi di rumah. Walau kalau boleh berkata jujur, kata “menghibur” untuk mendeskripsikan film ini terasa terlalu murah hati.

October 9, 2020

REVIEW : RENTANG KISAH

“Tuhan menciptakan dunia amat besar. Lalu masa kamu mau diem di rumah aja?”

Gita Savitri Devi adalah salah satu vlogger dan influencer berpengaruh di Indonesia. Kontennya berkisar pada serba-serbi pengalamannya sebagai WNI yang merantau ke negeri orang dan opini-opini kritisnya terhadap beragam isu sosial politik. Dalam menjalankan kanal YouTube miliknya, Gita pun tidak berjibaku sendirian. Dia didampingi oleh teman baiknya yang belakangan menjadi suaminya, Paul Andre Partohap. Kegemaran keduanya terhadap musik mendorong pasangan ini untuk sesekali memanjakan telinga para penggemar dengan lantunan tembang-tembang manis. Mereka ingin sebisa mungkin konten di kanal ini tak saja edukatif dan informatif, tetapi juga menyenangkan. Tak mengherankan jika kemudian Jeung Gita diikuti oleh lebih dari 900 ribu penggemar. Sebuah angka yang terhitung masif terlebih si empunya channel bukan berasal dari kalangan selebriti. Menilik perjalanan sekaligus pencapaian Gita yang impresif tersebut, rumah produksi Falcon Pictures pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Buku perdana karya sang vlogger yang laris dibaca oleh publik, Rentang Kisah, dipinang untuk diadaptasi ke dalam film panjang. Danial Rifki yang sebelumnya menggarap Haji Backpacker (2014) dan 99 Nama Cinta (2019), ditunjuk mengomandoi tontonan inspiratif yang menyoroti perjuangan berikut tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Gita saat sedang menimba ilmu di Jerman ini.

October 7, 2020

REVIEW : SABAR INI UJIAN

“Kebahagiaan akan datang saat kamu sudah bersyukur.”

Apakah kamu familiar dengan istilah time loop yang beberapa kali dipergunakan oleh film dari negara-negara yang telah jauh berkembang? Jika belum, istilah ini secara ringkas merujuk kepada film dengan tokoh utama yang terjebak dalam putaran waktu. Hari-harinya selalu berulang di satu tanggal, situasi-situasinya sama persis plek ketiplek, dan si protagonis harus mencari tahu sabab musababnya agar bisa terbebas dari siksaan duniawi ini lalu kembali menjalani kehidupannya seperti biasa. Satu judul paling populer yang menerapkan konsep penceritaan ini adalah Groundhog Day rilisan tahun 1993. Dari era gawai, kamu bisa menjumpainya dalam Edge of Tomorrow (2014), Happy Death Day (2017), maupun Palm Springs yang baru-baru ini dirilis. Sementara dalam khazanah sinema Indonesia, well, film berkonsep time loop sendiri masih sangat asing meski hamba pribadi sama sekali tidak terkejut. Apalagi konsep ini terhitung njelimet untuk dieksekusi dan film beraroma fantasi pun kurang diakrabi oleh penonton di Indonesia raya. Siapa coba yang cukup nekat untuk mengambil resiko? Sempat skeptis ranah ini akan benar-benar dijajaki oleh sineas kita, ternyata oh ternyata Anggy Umbara (Mama Cake, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) di bawah payung MD Pictures berani mengambil tantangan tersebut dengan menggarap Sabar Ini Ujian yang dilabeli “film Indonesia pertama yang mengaplikasikan konsep time loop”. Hasilnya? Sajian komedi drama yang menghibur meski masih meninggalkan catatan disana sini.

Mobile Edition
By Blogger Touch